MANAGED BY:
MINGGU
18 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 19 Juni 2017 12:11
Jangan Tergoda Diskon Besar
ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, TARAKAN – Tak dipungkiri sering kali seseorang mengaku kesulitan me-manage Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterimanya. Sebab, keinginan membeli barang-barang yang dibutuhkan akan kalah dengan barang-barang yang diinginkan. Lantas bagaimana cara me-manage pengeluaran THR dengan benar agar setelah lebaran tidak gigit jari karena kehabisan dana?

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Usman Assegaf membenarkan jika seseorang saat mendapatkan THR, memang sangat menggembirakan bagi mereka yang posisinya sebagai pekerja. Namun,  persoalannya adalah banyak sekali di lingkungan masyarakat yang kebanyakan mengartikan hari raya sebagai sesuatu yang patut dirayakan secara berlebih-lebihan.

“Sehingga akhirnya menyusahkan diri mereka sendiri,” tutur Usman.

Menurut Usman, THR yang ditunggu tersebut sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang lebih penting terlebih dahulu. Seperti misalnya zakat fitrah, atau kemudian digunakan untuk sedekah.

“Kemudian sisanya barulah digunakan untuk membeli kebutuhan lebaran seperti kue lebaran atau pakaian untuk lebaran. Jadi bukan dengan cara bermewah-mewahan, membeli pakaian yang tidak cukup satu, bahkan lebih dari dua,” tegasnya.

Usman mengungkapkan, memanage pengeluaran THR merupakan persoalan yang terjadi pada kebanyakan masyarakat saat ini. Di pegadaian, banyak sekali yang menggadaikan barang miliknya seperti motor atau apa saja yang dapat digadaikan hanya untuk terlihat lebih megah dan mewah saat hari raya.

“Padahal hal tersebut malah dapat menyulitkan mereka dikemudian hari nantinya,” kata Usman.

Biasanya, masyarakat akan menghabiskan tunjangan tambahannya itu dengan iming-iming discount yang hanya ada di hari raya saja. Kata Usman, fenomena diskon ini sering mengkelabui masyarakat dengan adanya potongan harga. “Padahal logika sederhananya adalah mana ada pengusaha yang mau rugi,” jelas Usman.

Dijelaskan Usman, yang benar-benar harga murah biasanya adalah obral, yakni barang stok lama yang sudah bertahun-tahun tidak laku, kemudian dijual kembali dalam bentuk harga modal. Misalnya dahulu harganya Rp 600 ribu, tetapi saat diobral, harganya menjadi Rp 300 ribu, dan itu terjadi karena memang harga modalnya adalah Rp 300 ribu.

“Setelah tidak laku di harga Rp 600 ribu, setelah 5 hingga 6 tahun, mereka mencuci gudangnya, sehingga dia menjual dengan harga pokok. Itu yang benar-benar murah,” tuturnya.

Usman melanjutkan, namun berbeda dengan discount yang biasanya dilakukan mark up terhadap harga barangnya. “Sehingga ketika kita membelinya mereka masih mendapatkan untung,” jelas Usman.

Selain itu, lanjut Usman, terdapat pula kebiasaan masyarakat indonesia yang notabene merupakan masyarakat yang konsumtif. Sehingga terkadang rakus dengan industri, rakus dengan makanan, maupun fashion.

“Jadi ketika mereka melihat harga murah, kemudian tergoda dan membelinya, dan pada saat sampai di rumah barang tersebut tidak terpakai. Banyak sekali kasus seperti itu,” ujar Usman.

Usman menambahkan, persoalan dalam me-manage pengeluaran memang harus dihindari, sehingga perlu adanya perlaku bijak dalam memanage keuangan, terutama ketika mendapatkan THR.

“Sehingga kita memang perlu me-manage pengeluaran kira, membeli untuk apa yang memang kita perlukan pada saat benar-benar kita butuhkan. Bukan apa yang kita inginkan,” tegasnya. (*/asf/nri)


BACA JUGA

Sabtu, 17 Februari 2018 11:23

Pemilik Barang Ilegal DPO

TARAKAN – Satuan Polisi Air (Satpolair) Polres Tarakan akhirnya menetapkan pemilik barang ilegal…

Sabtu, 17 Februari 2018 11:22

Sarat Makna, di Balik Tradisi Unik

TARAKAN – Tahun Baru Imlek menjadi momen paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat keturunan Tionghoa.…

Sabtu, 17 Februari 2018 11:19

Lima Nelayan Filipina sementara Ditanggung Negara

TARAKAN – Untuk mempermudah penyelidikan, kelima nelayan asal Filipina telah berada di Kantor…

Sabtu, 17 Februari 2018 11:16

Kaus Rp 25 Ribu, Dapat di Mana?

TARAKAN - Selain mengatur ketentuan dari alat peraga kampanye (algaka), Komisi Pemilihan Umum (KPU)…

Sabtu, 17 Februari 2018 11:15

10 Bulan, 503 Orang Didenda

TARAKAN - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan mengungkap jika 60 persen wilayah pesisir sebagai penghasil…

Sabtu, 17 Februari 2018 11:12

Job Fair Direncanakan Dua Bulan Lagi

TARAKAN- Jika di tahun sebelumnya pelaksanaan job fair hanya dilaksanakan sebanyak lima kali. Namun,…

Sabtu, 17 Februari 2018 11:05

Kerusakan Armada Hambat Penjemputan Sampah

TARAKAN – Ketua RT 8, Kelurahan Sebengkok, Laranto mengatakan, tidak banyak yang menjadi permasalahan…

Sabtu, 17 Februari 2018 10:48

Tradisi Kental di Tengah Tanah Rantau

IMLEK merupakan perayaan yang penting bagi warga etnis Tionghoa. Akan selalu ada berbagai perayaan tradisi…

Sabtu, 17 Februari 2018 10:46

Berbeda Keyakinan, Tetap Utamakan Kewajiban

Kelenteng Toa Pek Kong merupakan satu-satunya tempat ibadah umat Konghucu di Bumi Paguntaka. Kelenteng…

Sabtu, 17 Februari 2018 10:45

12 Hari dengan Air Segalon

TARAKAN - Tak satu pun kata yang keluar dari bibir ke lima nelayan asal Filipina ini, kala tiba di Bumi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .