MANAGED BY:
SELASA
23 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 17 Juni 2017 12:19
WN Malaysia Divonis Hukuman Mati

Diberi Waktu untuk Banding

WNA: Terdakwa kasus narkoba sabu-sabu 1,5 kilogram dan pil ekstasi 2.021 butir, Mah Su Yaw dihukum mati oleh hakim PN Tarakan, kemarin. Foto: Kurniawan/Radar Tarakan

PROKAL.CO, TARAKAN – Ayau warga negara Malaysia yang menjadi terdakwa kasus kepemilikan narkotika dan obat-obatan berbahaya (Narkoba) jenis sabu-sabu seberat 1,5 kilogram dan pil ekstasi 2.021 butir, yang ditemukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tarakan pada Februari lalu divonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Tarakan, kemarin (15/6) sore.

Dalam sidang yang dipimpin oleh hakim ketua Agustinus AM Dewa SH yang berlangsung di PN Tarakan dengan dihadiri oleh terdakwa Ayau didampingi kuasa hukumnya Agustan SH.

Majelis hakim secara tegas menyatakan terdakwa Ayau terbukti bersalah melanggar Pasal 114 Ayat 2 Undang-undang (UU) 35/2009 tentang Narkotika. Majelis hakim kemudian memberikan kesempatan bagi terdakwa dan kuasa hukumnya untuk berpikir atau mempersiapkan upaya hukum banding selama 7 hari, sehingga kasus ini belum inkrah atau masih bisa berlanjut ke pengadilan yang lebih tinggi.

JPU Sudiharyansyah SH menjelaskan, putusan tersebut tetap pada tuntutan awal yang diajukan oleh pihaknya, yaitu hukuman mati berdasarkan Pasal 114 Ayat 2 UU No 35 Tahun 2009. “Iya, pasal 114 ayat 2,” ungkap Jaksa Sudi usai sidang, (15/6).

Ditanya terkait dasar pertimbangan majelis menjatuhkan vonis hukuman mati tersebut, Sudi menolak berkomentar lebih jauh. “Harus kita baca dulu (surat putusannya),” katanya.

Untuk upaya banding pihaknya masih akan melihat perkembangannya, sehingga pihaknya masih berpikir-pikir untuk melanjutkan perkara terhadap terdakwa yang mmeiliki tato dan sebelumnya juga telah menjadi warga binaan di Lapas Tarakan dengan jenis kasus yang sama.

“Tidak ditanyakan apakah banding, apakah kasasi, apakah diterima. Langsung ditegaskan untuk mengambil sikap selama 7 hari. Kita lihat perkembangannya nanti. Dari terdakwa apakah dia banding atau bagaimana,” ucapnya.

Kuasa hukum terdakwa, Agustan SH juga membenarkan hukuman mati bagi kliennya ini. Bahkan segala upaya pembelaan telah dilakukannnya. Sebelumnya Agustan telah memberikan pembelaan bagi kliennya, baik dalam pledoi maupun dalam duplik dalam menanggapi tuntutan dan replik dari jaksa.

“Tetap hukuman mati. Tanyakan sama (humas PN) Pak Christo,” jelasnya.

Dikonfirmasi, Humas PN Tarakan Christo Sitorus menjelaskan vonis hukuman mati memang terkait dengan tuntutan dari JPU, yaitu Pasal 114 Ayat 2 UU 35/2009 tentang narkotika.

Ini merupakan hukuman tertinggi dalam pengadilan. Jarang PN Tarakan memberikan hukuman mati pada terdakwa yang terjerat kasus hukum di kantor yang beralamat di Jalan Jenderal Pangeran Diponegoro Nomor 99 Kota Tarakan tersebut. Sesuai amar putusan yang tercantum dalam surat putusan, vonis terhadap terdakwa yang diduga terkait dengan jaringan narkoba di Lapas Tarakan ini memiliki alasan yang kuat.

“Tapi intinya begini, hukuman mati itu hukuman paling tinggi. Jadi tidak mungkinlah kalau hakim tidak yakin betul, kemudian diputus mati,” jelasnya. Jadi kalau masalah pertimbangan-pertimbangan itu dibacalah diputusannya.

Ditanya apakah putusan tersebut karena terdakwa Ayau merupakan warga negara tetangga sekaligus terdakwa yang terbukti memiliki narkoba miliaran rupiah tersebut, ia tidak mau mengomentari lebih jauh.

“Tidak ada hubungannya dengan warga negara. Sedang dia (terdakwa) sudah ada pengacara. Majelis hakim sudah menunjuk pengacara untuk memberikan pembelaan di persidangan, jadi haknya dia. Juga mau warga negara Indonesia (WNI), mau warga negara asing, kalah dimuka hukum. Jadi tidak ada perbedaan ras dan golongan. Sudah ketinggalan zaman itu. Bacalah putusannya,” tegasnya.

Terdakwa Ayau merupakan rekan dalam kasus yang sama dari terdakwa Mus Mulyadi yang sudah divonis terlebih dahulu dengan hukuman 15 tahun penjara dari 20 tahun tuntutan belum lama ini oleh majelis hakim yang sama. Kini Mus Mulyadi mengajukan banding. Satu lagi warga binaan saat itu yang terpegok petugas membawa barang haram dalam kresek hitam tersebut, disebut-sebut sudah bebas. Namun tidak ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

“Harusnya Andi yang membawa keluar barang (narkoba) tersebut juga menjadi tersangka. Ada apa ini,” ucap pengacara Mus Mulyadi. (dae/nri)


BACA JUGA

Selasa, 23 Januari 2018 12:50

Rekor Awal Tahun, Empat Jam Padam

TARAKAN – Meski sudah berganti tahun, namun persoalan pemadaman listrik masih terjadi. Padahal…

Selasa, 23 Januari 2018 12:48

Lebih Banyak Menghabiskan Hari-Harinya di Rumah Sakit

Adam Al Fatah anak sulung pasangan Siti (28) dan Hery (38), harus merasakan sakit yang sudah dideritanya…

Selasa, 23 Januari 2018 12:47

Dana Suvenir Balon Capai Rp 100 Juta

TARAKAN – Memasuki masa kampanye Pilwali Tarakan para pengusaha jasa pembuatan spanduk, baliho…

Selasa, 23 Januari 2018 12:45

Enam Kelurahan Rawan Kecurangan

TARAKAN - Kecurangan pada proses pemilihan umum (Pemilu), menjadi atensi khusus yang harus disikapi…

Selasa, 23 Januari 2018 12:36

Tak Cukup Bukti, Laporan Dihentikan

TARAKAN - Gugatan pasangan Sabirin Sanyong dan Tajuddin Tuwo (Santun) kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU),…

Selasa, 23 Januari 2018 12:29

Hanura Terancam Jadi Penonton

TARAKAN - Konflik yang terjadi di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) belum…

Selasa, 23 Januari 2018 12:27

Tegaskan Imunisasi Dihalalkan MUI

TARAKAN – Target 92 persen pemberian imunisasi kepada anak-anak hingga saat ini oleh Dinas Kesehatan…

Selasa, 23 Januari 2018 12:23

Drainase Tersumbat Pasir dan Sampah

TARAKAN – Pada umumnya permasalahan di setiap lingkungan rukun tetangga (RT) hampir sama. Jika…

Senin, 22 Januari 2018 14:22

Balon-Tim Sukses Harus Melek UU

PERSOALAN biaya kampanye memang rentan mengarah ke arah black campaign. Belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya,…

Senin, 22 Januari 2018 14:19

Arief Jadi Wali Kota Selama 130 Hari

TARAKAN – Sang petahana Sofian Raga yang memutuskan untuk ingin melanjutkan kerjanya, pada Pilwali…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .