MANAGED BY:
SELASA
24 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 16 Mei 2017 12:15
Sempat Putus Asa hingga Mampu Kuliahkan Dina di Malang

Kisah Petani Jahe Wujudkan Impian Anaknya

WISUDA: Dina bersama orangtuanya Fransiskus dan Getrudis saat foto bersama usai diwisuda di Universitas Kanjuruhan, Malang. DINA UNTUK RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, Sebagai seorang petani jahe, sepertinya tidak mudah mampu menguliahkan sang anak hingga meraih titel sarjana. Namun, berkat kerja keras, orangtua Dina, yakni Fransiskus dan Getrudis mampu menguliahkannya hingga sarjan. Seperti apa perjuangannya? Ikuti kisahnya.

RIKO ADITYA WARDANA

DARI penuturan Frans sapaan akrab Fransiskus, tidak mudah bagi seorang petani jahe menguliahkan anak hanya melalui kebun jahe. Sebab, setiap bulan dirinya harus mengirim uang untuk kebutuhan Dina, anak pertamanya untuk biaya kuliah di Malang.

Tiga setengah tahun bukan waktu yang mudah untuk mengatur keuangan anaknya. Tapi, dirinya bersyukur dengan hidup hemat dengan mengandalkan kebun jahe yang dibuka secara bertahap untuk masa panennya. Alhasil, dirinya memiliki uang untuk mencukupi segala kebutuhan di rumah serta anaknya yang sedang kuliah. “Belajar dari saudara serta tetangga, saya dan istri terus menabung,” kata Frans membuka ceritanya kepada media ini.

Ia bercerita, niat awalnya adalah membuka lahan kebun jahe seluas mungkin. Diakuinya, dalam sekali panen dirinya dapat menghasilkan 4 sampai 5 ton jahe. Pada tahun 2014 hingga 2015, menurutnya adalah tahun penuh keberuntungan untuk para petani jahe. Sebab, pada waktu itu harga jahe mencapai Rp 21 ribu perkg. Bayangkan, jika 4.000 ton terjual, mampu menghasilkan uang sebanyak Rp 84 juta.

Namun, menurutnya menjadi petani jahe tidak selalu untung. Ada masa dan tahun di mana juga akan mengalami situasi kosong. “Ada dua pengalaman seperti kebun jahe terserang hama, belum lagi sakit pinggang karena proses fertilasi harus melalui sistem penggemburan masing-masing pokok jahe. Pengalaman ini membuat saya sakit dan kadang juga ada rasa ingin berhenti bekerja sebagai petani jahe,” cerita Frans.

Tapi, semua itu terbalaskan dengan kebanggaan tersendiri bagi keluarganya. Berkat keringat dan jerih payahnya, Dina berhasil mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan (SPd) tahun ini. Menghadiri putrinya saat diwisuda di Malang adalah catatan bersejarah bagi keluarga. Kini Frans dan istrinya tetap menjadi petani jahe dan menjadi guru bagi petani lainnya, khususnya yang ingin berkebun jahe.

Dirinya pun memberikan pesan kepada masyarakat di mana kita hanya perlu bersabar dan tekun bekerja. Selain itu, belajar menabung dan tidak menggunakan hasil jerih payah hanya untuk kebutuhan sesaat. “Tabunglah uang jerih lelahmu dan berilah kesempatan anak-anakmu untuk belajar demi masa depan mereka. Untuk itu kita perlu hidup hemat dan terukur sambil terus berdoa agar hidup kita bisa menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain,” pesan warga Kampung Lourdes di Sebatik tersebut.

Sementara itu, Dina mengalami situasi sulit dan pahit hidup di Pulau Sebatik waktu itu. Di mana hutan masih lebat dan minimnya gedung sekolah di seluruh daratan Sebatik membuat dirinya prihatin dengan keaadaan ekonomi, serta masyarakat di perbatasan dan pendidikan sejumlah anak eks Buruh Migran Indonesia (BMI) ini.

Atas situasi itulah, Dina lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Frateran BHK tahun 2012, mempunyai keinginan meneruskan sekolahnya hingga ke jenjang kuliah. Melihat kehidupan ekonomi orangtuanya yang hanya seorang petani jahe, dirinya mengurungkan niatnya untuk kuliah.

“Selama setahun saya memendam keinginannya untuk kuliah. Cita-citanya saya hanya satu, menjadi seorang guru, tapi saya urungkan karena melihat keadaan orang tua saya,” kata Dina.

Beruntung kedua orangtuanya perihatin dengan keinginan anaknya untuk kuliah. Pada tahun 2014 Dina diperkenankan untuk melanjutkan sekolahnya hingga jenjang kuliah di kota Malang. Masuk di Universitas Kanjuruhan, Fakultas Sains dan Teknologi, Program Studi Pendidikan Fisika adalah pilihannya.

Beragam pengalaman dirinya lalui sebagai anak kos. Dirinya sadar bahwa ia hidup jauh dari Sebatik, jauh dari orangtua dan para sahabatnya. Ia pun membangun relasi sosial dengan semua orang yang berbeda asal dan agama. Begitu pula halnya di Kampus, dirinya lalui sebagai medan pemurnian intelektual, hati dan rasa. Pengalaman dan peristiwa itu sungguh menguntungkan dirinya.

Dan pada akhirnya tepat pada Sabtu (22/4) lalu, dirinya diwisuda dan dilantik menjadi seorang Sarjana Pendidikan. Disaksikan kedua orangtuanya saat menuju panggung untuk diwisuda, dirinya pun menangis terharu atas peristiwa itu. “Saya terharu karena cita-cita saya kini tercapai. Tentu ini juga berkat kerja keras orang tua saya,” tuturnya melalui pesan Whats App kepada awak media ini. Kini Dina siap untuk menjadi seorang guru di Sebatik. Kebanggaan dan kegembiraan Dina tidak terlepas dari dukungan kedua orangtuanya. (***/eza)


BACA JUGA

Selasa, 24 April 2018 12:40

Bea Cukai Pasang Badan

NUNUKAN – Kapal MV Dong Thien Phu Golden yang mengangkut 2.900 ton beras asal Vietnam dengan tujuan…

Selasa, 24 April 2018 11:12

Tunjangan Khusus Guru Tak Diberikan

NUNUKAN - Sejumlah guru di Kecamatan Krayan kembali mengadukan nasib mereka di Dewan Perwakilan Rakyat…

Senin, 23 April 2018 12:23

Pos Imigrasi ‘Diserbu’ Warga

NUNUKAN – Pelayanan Imigrasi Kelas II Nunukan yang dilakukan di Pos Imigrasi Sungai Pancang Sebatik…

Senin, 23 April 2018 12:22

PR Kedua Negara Perbatasan

NUNUKAN – Permasalahan tenaga kerja Indonesia (TKI), penyelundupan barang haram hingga teroris…

Minggu, 22 April 2018 12:12

Kapal Berbendera Vietnam Dipaksa Sandar di Pelabuhan Tunon Taka

NUNUKAN - Kapal asal Vietnam dipaksa bersandar di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan. Kapal yang memiliki…

Sabtu, 21 April 2018 10:26

Warga Harus Segera Pindah

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan dalam waktu dekat, akan segera membersihkan area…

Sabtu, 21 April 2018 10:14

Persoalan Lawas, Dideportasi Bukan TKI Resmi

NUNUKAN – Bekerja di luar negeri masih menjadi magnet tersendiri bagi para Warga Negara Indonesia…

Jumat, 20 April 2018 12:35

Satu Maskapai Melirik, Armada TNI Jadi Alternatif

NUNUKAN – Proses Lelang Subsidi Ongkos Angkut (SOA) Nunukan-Krayan kini dilirik salah satu maskapai.…

Jumat, 20 April 2018 12:16

Zona Merah, Aset Pemprov Kaltim

NUNUKAN – Warga yang bermukim di  Rukun Tetangga (RT) 14 Jalan Antasari, Kelurahan Nunukan…

Jumat, 20 April 2018 10:11

Data Belum Valid, Gaji Guru Honorer Tertahan

NUNUKAN – Pasca dilakukan uji kompetensi guru pada Februari lalu, hingga saat ini Dinas Pendidikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .