MANAGED BY:
MINGGU
23 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Selasa, 16 Mei 2017 12:15
Sempat Putus Asa hingga Mampu Kuliahkan Dina di Malang

Kisah Petani Jahe Wujudkan Impian Anaknya

WISUDA: Dina bersama orangtuanya Fransiskus dan Getrudis saat foto bersama usai diwisuda di Universitas Kanjuruhan, Malang. DINA UNTUK RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, Sebagai seorang petani jahe, sepertinya tidak mudah mampu menguliahkan sang anak hingga meraih titel sarjana. Namun, berkat kerja keras, orangtua Dina, yakni Fransiskus dan Getrudis mampu menguliahkannya hingga sarjan. Seperti apa perjuangannya? Ikuti kisahnya.

RIKO ADITYA WARDANA

DARI penuturan Frans sapaan akrab Fransiskus, tidak mudah bagi seorang petani jahe menguliahkan anak hanya melalui kebun jahe. Sebab, setiap bulan dirinya harus mengirim uang untuk kebutuhan Dina, anak pertamanya untuk biaya kuliah di Malang.

Tiga setengah tahun bukan waktu yang mudah untuk mengatur keuangan anaknya. Tapi, dirinya bersyukur dengan hidup hemat dengan mengandalkan kebun jahe yang dibuka secara bertahap untuk masa panennya. Alhasil, dirinya memiliki uang untuk mencukupi segala kebutuhan di rumah serta anaknya yang sedang kuliah. “Belajar dari saudara serta tetangga, saya dan istri terus menabung,” kata Frans membuka ceritanya kepada media ini.

Ia bercerita, niat awalnya adalah membuka lahan kebun jahe seluas mungkin. Diakuinya, dalam sekali panen dirinya dapat menghasilkan 4 sampai 5 ton jahe. Pada tahun 2014 hingga 2015, menurutnya adalah tahun penuh keberuntungan untuk para petani jahe. Sebab, pada waktu itu harga jahe mencapai Rp 21 ribu perkg. Bayangkan, jika 4.000 ton terjual, mampu menghasilkan uang sebanyak Rp 84 juta.

Namun, menurutnya menjadi petani jahe tidak selalu untung. Ada masa dan tahun di mana juga akan mengalami situasi kosong. “Ada dua pengalaman seperti kebun jahe terserang hama, belum lagi sakit pinggang karena proses fertilasi harus melalui sistem penggemburan masing-masing pokok jahe. Pengalaman ini membuat saya sakit dan kadang juga ada rasa ingin berhenti bekerja sebagai petani jahe,” cerita Frans.

Tapi, semua itu terbalaskan dengan kebanggaan tersendiri bagi keluarganya. Berkat keringat dan jerih payahnya, Dina berhasil mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan (SPd) tahun ini. Menghadiri putrinya saat diwisuda di Malang adalah catatan bersejarah bagi keluarga. Kini Frans dan istrinya tetap menjadi petani jahe dan menjadi guru bagi petani lainnya, khususnya yang ingin berkebun jahe.

Dirinya pun memberikan pesan kepada masyarakat di mana kita hanya perlu bersabar dan tekun bekerja. Selain itu, belajar menabung dan tidak menggunakan hasil jerih payah hanya untuk kebutuhan sesaat. “Tabunglah uang jerih lelahmu dan berilah kesempatan anak-anakmu untuk belajar demi masa depan mereka. Untuk itu kita perlu hidup hemat dan terukur sambil terus berdoa agar hidup kita bisa menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain,” pesan warga Kampung Lourdes di Sebatik tersebut.

Sementara itu, Dina mengalami situasi sulit dan pahit hidup di Pulau Sebatik waktu itu. Di mana hutan masih lebat dan minimnya gedung sekolah di seluruh daratan Sebatik membuat dirinya prihatin dengan keaadaan ekonomi, serta masyarakat di perbatasan dan pendidikan sejumlah anak eks Buruh Migran Indonesia (BMI) ini.

Atas situasi itulah, Dina lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Frateran BHK tahun 2012, mempunyai keinginan meneruskan sekolahnya hingga ke jenjang kuliah. Melihat kehidupan ekonomi orangtuanya yang hanya seorang petani jahe, dirinya mengurungkan niatnya untuk kuliah.

“Selama setahun saya memendam keinginannya untuk kuliah. Cita-citanya saya hanya satu, menjadi seorang guru, tapi saya urungkan karena melihat keadaan orang tua saya,” kata Dina.

Beruntung kedua orangtuanya perihatin dengan keinginan anaknya untuk kuliah. Pada tahun 2014 Dina diperkenankan untuk melanjutkan sekolahnya hingga jenjang kuliah di kota Malang. Masuk di Universitas Kanjuruhan, Fakultas Sains dan Teknologi, Program Studi Pendidikan Fisika adalah pilihannya.

Beragam pengalaman dirinya lalui sebagai anak kos. Dirinya sadar bahwa ia hidup jauh dari Sebatik, jauh dari orangtua dan para sahabatnya. Ia pun membangun relasi sosial dengan semua orang yang berbeda asal dan agama. Begitu pula halnya di Kampus, dirinya lalui sebagai medan pemurnian intelektual, hati dan rasa. Pengalaman dan peristiwa itu sungguh menguntungkan dirinya.

Dan pada akhirnya tepat pada Sabtu (22/4) lalu, dirinya diwisuda dan dilantik menjadi seorang Sarjana Pendidikan. Disaksikan kedua orangtuanya saat menuju panggung untuk diwisuda, dirinya pun menangis terharu atas peristiwa itu. “Saya terharu karena cita-cita saya kini tercapai. Tentu ini juga berkat kerja keras orang tua saya,” tuturnya melalui pesan Whats App kepada awak media ini. Kini Dina siap untuk menjadi seorang guru di Sebatik. Kebanggaan dan kegembiraan Dina tidak terlepas dari dukungan kedua orangtuanya. (***/eza)


BACA JUGA

Jumat, 21 Juli 2017 09:35

Kinerja dan Pribadi Bupati Dihina di Sosmed

NUNUKAN – Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid mendapat hinaan di sosial media (sosmed). Hinaan…

Jumat, 21 Juli 2017 09:26

Mudah Peroleh Informasi, Bermain Game dan Nonton Film

Mempunyai akses internet Wireless Fidelity (wifi) kencang dan gratis  sepertinya bukan hal biasa…

Kamis, 20 Juli 2017 10:21

Kesadaran Masyarakat Bayar Retribusi Masuk PLBL Rendah

NUNUKAN – Pelabuhan Pos Lintas Batas Laut (PLBL) Liem Hie Djung menjadi salah satu sumber penghasil…

Kamis, 20 Juli 2017 10:18

Masyarakat Mulai ‘Dihantui’ ISPA

NUNUKAN – Perubahan cuaca yang tiba-tiba, dari panas lalu hujan deras belakangan ini begitu terasa…

Rabu, 19 Juli 2017 10:49

Pedagang di Alun-Alun Berhenti Berjualan

NUNUKAN – Pekerjaan fasilitas percontohan ruang terbuka publik revolusi mental di Alun-alun Nunukan…

Rabu, 19 Juli 2017 10:27

BAHAYA..!! Konflik Buaya vs Manusia di Sini Makin Keras

NUNUKAN – Semakin ramainya aktivitas masyarakat di sungai yang ada di Kecamatan Sebuku dinilai…

Rabu, 19 Juli 2017 10:08

Warga Diimbau Hati-Hati Beraktivitas di Sungai

NUNUKAN – Kasus Tahir (38) pertengahan Juni lalu yang diserang buaya saat berada di sungai Desa…

Selasa, 18 Juli 2017 10:24

Pembangunan Kawasan Industri Mansapa Tak Jelas

NUNUKAN – Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan dengan membuat sebuah kawasan industri…

Selasa, 18 Juli 2017 10:22

Proyek Belum Selesai, Presiden Batal Berkunjung ke Sebatik

NUNUKAN – Kedatangan Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo yang direncanakan berkunjung…

Senin, 17 Juli 2017 11:57

Status ASN Tiga Koruptor Akan Dicabut

NUNUKAN – Bukan lagi sanksi yang akan menanti tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terbukti melakukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .