MANAGED BY:
RABU
24 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 08 Mei 2017 20:26
Jika Beruntung, Kunyit Bisa Berubah Menjadi Emas

Emas Sekatak Diyakini Berasal dari Legenda Belekatoy

DIJAGA POLISI: Sejauh ini lokasi tambang emas Sekatak ditutup sementara waktu karena dinilai ilegal. Bahkan lokasi tersebut dijaga oleh aparat kepolisian Polres Bulungan. FOTO: KHAERUDDIN ELANG GEO/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Ibarat peribahasa, di mana ada gula di situ ada semut. Mungkin kalimat ini tepat untuk menggambarkan kondisi Kecamatan Sekatak. Salah satu kecamatan yang banyak menarik minat warga luar berduyun-duyun datang untuk menambang emas.

KHAERUDDIN ELANG GEO, Tanjung Selor

UNTUK bisa menuju ke lokasi tambang emas Sekatak yang kini dalam pengawasn aparat kepolisian. Bukan sesuatu yang mudah. Pewarta harus menempuh perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat Mistsubishi jenis Strada L2000.

Dari Tanjung Selor, memakan waktu sekira 2 jam lamanya dengan kondisi jalan sesekali ditemukan berlobang. Sejatinya, jika saja akses jalan mulus tentu perjalanan bisa lebih cepat.

Perjalanan yang dimulai pada pukul 10.00 Wita, pewarta tiba di ibu kota Kecamatan Sekatak sekira pukul 12.00 Wita. Tepat di tepi Sungai Sekatak, beberapa warga bersama tokoh masyarakat setempat sudah menunggu di sebuah kontrakan yang digunakan sebagai kantor koperasi yang dikelola warga setempat.

Dalam bayangan pewarta, lokasi masyarakat mendulang emas berada di tepi seberang sungai. Ternyata meleset. Karena harus menempuh lagi perjalanan sekira 3 jam lebih dengan melintasi jalur perkebunan kelapa sawit.

Sembari beristirahat sejenak di koperasi yang dikelola warga. Beberapa tokoh masyarakat yang sudah berkumpul duduk bersila untuk sekadar berbagi kisah polemik ditutupnya tambang emas yang sekian tahun menjadi sumber mata pencaharian mereka agar dapur bisa tetap ngupul dan anak-anak bisa tetap bersekolah.

Lokasi tambang memang sudah dinyatakan ilegal. Bahkan ditutup untuk sementara waktu dengan dijaga oleh beberapa personel aparat kepolisian bersenjata lengkap. Akan diizinkan kembali beroperasi jika masyarakat sudah memiliki badan hukum dalam mengelola tambang emas rakyat.

H. Mahdar (53), salah seorang tokoh masyarakat yang dituakan di dalam ruangan berukuran 7x 12 meter tempat berkumpul memulai cerita bagaimana daerah tempat kelahirannya itu dikaruniai emas.

Terlepas dari cerita salah seorang yang sempat menemukan sebongkah emas dan menggemparkan warga kala itu. Mahdar menceritakan sebuah legenda mengapa daerahnya tersebut mengandung emas.

“Dulunya di daerah ini orang belum mengelola tambang emas. Hanya cerita legenda di situ pernah ada Belekatoy, makhluk jadi-jadian. Jadi kalau orang nasib baik ketemu dengan Belekatoy maka dia beruntung.” kata Mahdar.

Belekatoy, menurut kisah ayahnya kerap menggunakan perahu dan mendayung hingga menemukan siapa saja yang ada di sekitar sungai. Jika ia berhenti, ia melemparkan tali penambat yang terbuat dari rotan.

“Jadi orangnya (Belekatoy, Red) juga begitu, kadang beikat kepala. Kadang mampir dengan kita dia nanya ‘ada makanan kah? Ndak ada apa-apa di dalam perahuku,” kata Mahdar menirukan cerita rakyat yang ia dapatkan tentang Belekatoy.

“Kadang kita dikasih pinang, kunyit. Tiba-tiba berlalu, dia pergi dan barang yang dikasihnya berubah jadi emas. Ternyata dia hanya menguji kita. Ini rejeki” sambungnya.

Seraya membenarkan pecinya, Pak Haji--pemuda setempat kerap memanggil Muhadar, melanjutkan kisahnya tentang legenda Belekatoy. Kadang kala, masyarakat saat itu kerap menjumpai mahkhuk tersebut di hulu sungai. Sesekali warga mendapatinya sedang berkebun.

Nah, terkadang, kata pria kelahiran 1961 ini, bagi warga yang tak beruntung, semisal tak memberikan apa yang diinginkan Belakatoy, ia bisa berbalik menjadi jahat. “Bisa baik dan bisa jahat, bisa jadi anjing. Dia bisa berubah jadi-jadian. Kita ndak tahu jenisnya apa. Bisa berubah bentuk.” bebernya.

Cerita inilah yang diyakini masyarakat Sekatak, sebagai mitos. Mengapa Kecamatan Sekatak diberkahi dengan kekayaan alam berupa emas yang dalam beberapa tahun ini menjadi penopang warga setempat, bahkan masyarakat luar sebelum akhirnya dinyatakan ilegal.

Pria yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa Sekatak Buji periode 1992-2007 ini melanjutkan, jika dulunya lokasi tambang emas Sekatak merupakan kawasan milik PT Inhutani.

Seiring waktu, perusahaan kayu tersebut mulai melepaskan asetnya untuk diserahkan kepada masyarakat dan dikelola untuk bercocok tanam. Termasuk lokasi keberadaan tambang emas sebelum akhirnya dikelola oleh PT BSMP yang bergerak pada sektor kelapa sawit.

“Pokoknya, kita mohon wilayah Sekatak Buji yang diduduki Inhutani mohon diserahkan ke masyarakat. Waktu itu kita berdebat di ruangan bupati.” tuturnya.

Ada tiga hal yang diminta warga saat itu. Pertama, menyangkut
aset untuk diserahkan ke masyarakat. Kedua, kayu yang tidak bisa dimanfaatkan dan ketiga lahan.

Menurut mahdar, saat awal mula ditemukannya bongkahan emas. Warga Sekatak tak ada yang memiliki keahlian untuk mengolah lokasi tersebut. Sehingga mulai lah warga luar berdatangan.

“Waktu itu orang tertentu saja yang tahu. Orang sini (Sekatak) belum mengerti. Orang masih senyap, cuman cerita punya cerita menyebarlah sudah orang makin bertambah.” kenangnya.

Sekatak yang dulunya sepi, jumlah warganya kian meningkat dari waktu ke waktu. Tak lain untuk mengadu peruntungan mengolah emas. “Semua rumah penuh disewa orang.” ujarnya.

“Kenapa demikian? Karena kita ndak punya mesin untuk mengelola. Mereka (warga luar) ahli dalam menambang. Mau tidak mau kita pakai tenaga luar.” timpalnya.

Illang (23) salah seorang warga yang sengaja datang dari Pulau Sulawesi, menceritakan jika salah seorang warga sempat mendapatkan sebanyak 95 karung dan kandungan emas yang dihasilkan seberat 15 kilogram. “Itu sebelum lokasi tambang ditutup dan dijaga polisi,” ungkapnya.

Pasca ditutup untuk sementara waktu. Warga Sekatak pun berharap kepada pemerintah daerah untuk dapat membantu memudahkan mereka dalam membuat proses perizinan agar tambang emas tersebut bisa legal dikelola masyarakat sebagai penopang perekonomian mereka. (*)


BACA JUGA

Selasa, 23 Januari 2018 22:03

BREAKING NEWS!!! Gedung SMAN 2 Tanjung Selor Terbakar

TANJUNG SELOR - Dua ruangan SMA Negeri 2 Tanjung Selor yang bertempat di Selimau, Kelurahan Tanjung…

Selasa, 23 Januari 2018 12:22

Dugaan Gratifikasi, Kadis ESDM: Itu Hoaks

TANJUNG SELOR - Demonstrasi yang dilakukan di depan kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Rabu…

Selasa, 23 Januari 2018 12:19

Batal Pindah, SMAN 2 Akan Dibangunkan RKB

TANJUNG SELOR – Persoalan lahan SMAN 2 Tanjung Selor di Selimau, Bulungan yang masih bersengketa…

Selasa, 23 Januari 2018 12:18

Rusak Parah, Jalan Seperti Kolam Lumpur

TANJUNG SELOR – Meski tak jauh dari pusat Ibu Kota Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Tanjung…

Selasa, 23 Januari 2018 12:16

Cuaca Buruk, Bulungan Masih Berpotensi Banjir

TANJUNG SELOR – Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bulungan memprakirakan beberapa…

Selasa, 23 Januari 2018 12:15

Kelanjutan Taman Tergantung Kesiapan Lahan

TANJUNG SELOR - Realisasi proyek pembangunan Taman Sabanar Lama, Tanjung Selor, Bulungan sudah mencapai…

Selasa, 23 Januari 2018 12:13

TMT Pengangkatan CPNS Pemprov Terbit 1 Februari

TANJUNG SELOR – Jika sesuai rencana, terhitung mulai tanggal (TMT) pengangkatan 422 peserta Calon…

Senin, 22 Januari 2018 14:24

Faktor Penting Itu Rp 20 Miliar

TARAKAN – Tahun ini hanya Bumi Paguntaka saja yang melaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada)…

Senin, 22 Januari 2018 13:35

Jembatan Terpanjang di Indonesia Butuh Triliunan Rupiah

TANJUNG SELOR – Proses pembangunan Jembatan Bulungan-Tarakan (Bulan) yang merupakan salah satu…

Senin, 22 Januari 2018 13:29

Mampu Berikan Multiplier Effect

TANJUNG SELOR – Pemprov Kaltara berkomitmen mewujudkan percepatan realisasi pembangunan Jembatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .