MANAGED BY:
JUMAT
23 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 30 Maret 2017 09:48
Ditinggal Suami, Setiap Hari Hanya Diurus Tetangga

Menelusuri Kisah Sumirah, Nenek Sebatang Kara Penderita Kanker Payudara

INGIN TINGGAL DI PANTI: Sejak beberapa bulan terakhir kondisi Sumirah semakin parah, karena kanker payudara yang dideritanya sudah stadium empat dan sulit disembuhkan. SAMSUL UMARDHANYE/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Belakangan  Sumirah, warga Desa Long Beluah, Kecamatan Tanjung Palas Barat mengundang iba masyarakat, salah satunya dari Forum Komunikasi Keluarga Jawa (FKKJ) Kabupaten Bulungan. Nah,Selasa (28/3), wartawan Radar Kaltara berkesempatan melihat langsung kondisi Sumirah, karena dihari tersebut FKKJ melakukan kunjungan ke kediaman wanita asal Surabaya itu sekaligus memberikan bantuan pangan.

SAMSUL UMARDHANYE, Tanjung Selor

Selasa pagi, sekira pukul 10.00 Wita bersama dengan pengurus Forum Komunikasi Keluarga Jawa (FKKJ) Kabupaten Bulungan, yaitu Ali Patokah, Suroso, Cholili dan Sugiyanto berangkat dari Tanjung Selor menuju Desa Long Beluah, Kecamatan Tanjung Palas Barat melalui jalur darat.

Perjalanan kami untuk sampai di tujuan membutuhkan waktu sekira dua jam, karena kondisi jalan yang tak cukup bersahabat, terutama ketika sudah memasuki jalan poros menuju Kecamatan Tanjung Palas Barat, yang jika dilihat secara kasat mata hanya 30 persen beraspal selebihnya jalan tanah dan bebatuan.

Dalam perjalanan, terlihat bentangan hutan terhampar luas, dengan beberapa pemukiman yang dilewati, seperti Kampung Baratan, Desa Mara Hilir, Desa Mara Satu lalu kemudian Desa Long Beluah, dan sesekali pula terlihat para pengendara yang lalu lalang, terkadang ditemui para pengendara membantu pengendara lainnya karena kesulitan melewati jalan yang berlumpur.

Setelah puas menikmati perjalanan yang sedikit melelahkan, sekira pukul 12.00 Wita sampailah kami di Desa Long Beluah, Ibu Kota Kecamatan Tanjung Palas Barat yang juga dikenal dengan sebutan Bhayangkara. Namun kami tak langsung dapat menuju rumah Sumirah karena minimnya pengetahuan akan desa tersebut. Sesekali kami bertanya pada warga sekitar yang terlihat saat itu.

Seseorang warga RT 11 yang ditemui saat itu, tampak bingung ketika kami bertanya mengenai keberadaan Sumirah. Seakan baru mendengar nama yang kami ucapkan. Sedikit menginggat, ia menyebutkan sebuah nama, yang juga asing bagi kami.

“Mbah Ra mungkin ya,  kalo iya itu rumahnya di RT tujuh, kalian lurus nanti ada gapura belok kanan, nanti ada jembatan rumahnya di daerah itu, ” ujarnya sembari memberikan petunjuk jalan yang ia maksudkan.

Kami pun bergegas menuju arah yang telah ditunjuk tersebut.Di sisi lain terlihat papan pemberitahuan RT yang menunjukan bahwa kami sedang berada di RT 07, dan juga terdapat sebuah papan pengumuman terpasang jelas dengan ukuran yang cukup besar bertuliskan 10 program pokok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Sekira satu kilometer dari papan pengumuman yang telah kami lewati, tepat berada di depan kami terlihat sebuah jembatan yang berdiri kokoh, jembatan itu dikenalkan dengan sebutan jembatan Sungai Long Beluah. Dari kejauhan sekira 10 meter terlihat sebuah mobil yang baru saja tiba dan memberikan kami isyarat untuk berhenti, seseorang itu ialah Camat Tanjung Palas Barat, Rahmad dan kami segera menepi dan parkir tepat di belakang mobil ambulans yang di bawa oleh pihak puskesmas setempat yang lebih dahulu hadir.

Rahmad, tampak mendahului kami untuk menuju rumah Sumirah seakan menunjukan kami arah, tepat pada rumah ketiga di sisi kiri jembatan tersebut, ia menunjukkan rumah yang ingin kami datangi.

Terlihat jelas sebuah rumah sederhana berukuran 3 x 6 meter, tanpa setetes cat mewarnai rumah yang kondisinya sedikit miring ke arah kanan. Rumah yang berdiri tepat di bawah pohon mangga itu  berada di bibir Sungai Long Beluah. Kehadiran kami rupanya bukan yang pertamanya, ternyata di dalam rumah telah menunggu beberapa warga di dalamnya yakni Hj. Supiah, Rahmawati dan Suriani. Merekalah yang selama ini bergantian merawat Sumirah. Tak lama kemudian menyusul Kepala Puskesmas, Yudi Haryoko.

Setelah beberapa saat tim FKKJ berkomunikasi dengan mereka yang ada di rumah termasuk Sumirah, diberikanlah bantuan logistik kepadanya. Setelah itu barulah pewarta Radar Katara mencoba berkomunikasi dengan Sumirah yang saat itu menggunakan baju biru muda dengan posisi terbaring lemah di sebuah bantal yang dihiasi empat warna bermotif kembang api dengan rambut yang sedikit terurai  di bantal yang ditinggikan dengan bantal gulingnya di sebuah bilik kamar yang tidak terlalu terang cahayanya. Maklum saja hanya ada satu jendala yang tidak terlalu lebar.

Tempat tidur yang dilapisi sprei merah tersebut terlihat sangat sederhana, tak terlihat empuk dan tidak pula terlihat keras, namun wanita 71 tahun itu terlihat nyaman dengan kondisi itu. Sesekali wanita kelahiran Surabaya itu bergerak dan menahan rasa sakit yang tidak kami rasakan saat itu, diapun memulai pembicaraan.

 “Saya sebenarnya ingin tinggal di panti, biar ada teman berbicara,” ucapnya seakan sangat membutuhkan seorang lawan bicara yang mungkin dapat melupakan sakit yang ia derita.

Sepertinya bukan tanpa alasan jika hal itu ia utarakan, mengingat wanita yang lahir 1 Juli 1946 itu, saat ini sudah tidak memiliki keluarga  di desa sejak ditinggal suaminya tahun 1988 yang sama sekali tidak dimengerti alasannya.

Dia menggatakan, hanya petugas puskesmas bersama tiga tetangganya tadilah yang selalu menggurusinya setiap hari setelah tidak dapat bergerak lagi sejak tiga pekan terakhir karena kanker payudara yang telah menjalar ketulangnya.

Meskipun ada yang mengurusi, kata wanita yang hanya punya anak tiri ini, tidak selamanya dapat bersamanya seperti apa yang diharapkan, karena kondisi para tetangganya juga memiliki kesibukan masing-masing, namun dia sangat memahami kondisi tersebut. Sehingga setelah selesai diurusi dan ditinggal, maka rasa sedihpun mulai menyelimuti hatinya. Diapun menyadari kondisi yang terjadi saat ini, dimana umurnya tak muda lagi ditambah dengan sakit berat yang diderita yang seharusnya para keluarga seperti anak dan suami ada disampingnya untuk merawatnya. Namun itu baginya hanya sebuah angan-angan karena semua sudah tidak dimilikinya. “Makanya saya mau saja di panti kalau ada yang membawa saya ke sana, daripada di sini merepotkan orang,” ucapnya dengan nada lirih.

Kondisi lain yang membuat hati iba, disaat ia sesekali sangat membutuhkan makanan ataupun minum seperti kebanyakan manusia normal lainnya, terpaksa harus menahan itu semua hingga seorang datang untuk memberikan. Kondisinya saat ini lah yang sangat membatasi ruang geraknya, jangankan untuk pergi keluar rumah, berdudukpun tak mampu. Terkadang  juga ingin membeli sebuah makanan ringan yang dapat mengganjal perutnya, namun kondisi keuanganlah yang memaksanya harus menahan keinginan tersebut dan jikapun memiliki uang, kepada siapa memerintah jika rasa tersebut datang kala sedang sendiri.

Itu semua diceritakan seolah ingin melepas beban yang ada, tanpa tersadar olehnya kulit pipi yang tak lagi kencang itu basah oleh air matanya, suaranya terkadang hilang dan tersenggal karena menahan emosi dari kesedihan yang dirasakannya.

Rasa iba tak hanya sampai disitu, wanita yang penyakit kanker payudaranya sudah memasuki stadium itu kembali menceritakan rasanya seorang yang tinggal sendiri dengan kondisi sakit sepertinya. Ketika malam dan saat para tetangga lupa untuk menutup pintu rumahnya. Ia sangat ingin bergerak untuk menutupnya, namun apalah daya kondisi saat ini sangat membatasi ruang geraknya, sehingga terkadang pintunya tetap terbuka hingga keesokan harinya.

Ia pun tak segan menceritakan awal penyakit yang dideritanya.Gejala sakit yang dirasakan sejak bulan Juni 2016, namun selama ini tidak ingin diketahui orang dan tetap tetap beraktivitas mencari nafkah untuk dirinya sendiri dengan cara berkebun. Namun dalam tahun ini ia mulai merasakan sakitnya tersebut sangat menganggu dan memutuskan untuk pergi ke praktik dengan menggunakan jasa mobil travel yang ada untuk sampai ke Tanjung Selor. Sesampainya di tujuan, ada suatu hal yang tidak diketahuinya, ternyata praktik hanya buka pada malam hari sehingga diarahkan langsung menuju ke Rumah Sakit Daerah dr. H. Soermarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor.

“Sampai rumah sakit katanya saya pingsan dan langsung dibawa ke UGD (Unit Gawat Darurat) dan akhirnya di rawat selama 10 hari dan saya mendapat rontgen, tulang di daerah sebelah kiri ini hancur akibat kanker payudara di sebelah kanan ini,” ceritanya.

Dia mengatakan, setelah tidak ada perubahan selama perawatan, ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya dengan pertimbangan tidak ada yang merawatnya jika di rumah sakit, dan tak bisa terus berharap dengan istri Camat Tanjung Palas Barat yang saat itu banyak membantunya.

“Makanya saya minta pulang hingga akhirnya seperti saat ini,” imbuhnya.

Sumirah sendiri datang ke Long Beluah tahun 1977 bersama seorang yang bermana Akun, merupakan bos di satu perusahaan yang jaya saat itu. Kedatangannya untuk berkerja yang saat itu ditawari menjadi juru masak di perusahaan Akun.

“Memang saat itu saya masih gadis,” ujarnya.

Namun kata dia, sejak menikah dengan seorang bernama Saat pada tahun 1975, ia berhenti bekerja pada Akun, hingga akhirnya sang suami yang belakangan diketahui warga Tanjung Selor meninggalkannya tanpa diketahui rimbanya hingga saat ini. Dia pun tak ingin menjelaskan awal mula pertemuannya dengan suaminya.

“Saya menjadi istri keenam saat itu,” ungkapnya.

Halaman:

BACA JUGA

Kamis, 22 Februari 2018 10:25

Oknum ASN Hadirkan Saksi Meringankan

TANJUNG SELOR – Sidang kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oknum kepala instansi vertikal di…

Kamis, 22 Februari 2018 10:16

Cegah Konflik, Raperda Zona Wilayah Pesisir Dikebut

TANJUNG SELOR – Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau…

Kamis, 22 Februari 2018 10:14

Manfaatkan Sungai sebagai Sumber Daya Listrik

Sejak menjadi Provinsi Kaltara, wilayah utara Kalimantan ini terus berkembang. Kendati demikikan, infrastruktur…

Kamis, 22 Februari 2018 10:13

500 Kepala Keluarga Terbebas dari Ancaman Air Bersih

TANJUNG SELOR – Warga Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara akhirnya lepas dari ancaman…

Kamis, 22 Februari 2018 10:12

Cekcok dengan Suami, IRT Nekat Minum Pembersih Lantai, YA WASSALAM.....

TANJUNG SELOR - Diduga karena permasalahan rumah tangga, seorang ibu rumah tangga (IRT) nekat mengakhiri…

Kamis, 22 Februari 2018 10:11

Program Food Estate Ditangani ‘Keroyokan’

TANJUNG SELOR – Menjadikan Bulungan sebagai daerah lumbung pangan berbasis industri masih jauh…

Rabu, 21 Februari 2018 11:05

Bosan Dijanji, SBSI Kembali ‘Bersuara’

TANJUNG SELOR - Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) yang ada di Bulungan kembali menyuarakan aspirasi…

Rabu, 21 Februari 2018 11:03

Komisi VII Minta Solusi Jangka Pendek

TANJUNG SELOR – Persoalan listrik di Kalimantan Utara (Kaltara) hingga kini masih terus dikeluhkan…

Rabu, 21 Februari 2018 11:01

Oknum Penjual Abate Masih Berkeliaran

TANJUNG SELOR – Abate, salah satu obat yang berfungsi mematikan jentik atau larva dari nyamuk…

Rabu, 21 Februari 2018 11:00

Tolak Revisi UU MD3 Disahkan, Mahasiswa ‘Turun’ ke Jalan

TANJUNG SELOR - Sejumlah mahasiswa dari beberapa organisasi kemahasiswaan yang ada di Tanjung Selor…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .