MANAGED BY:
SELASA
12 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Rabu, 15 Maret 2017 10:55
Raja Pandita Pemersatu Suku-Suku

Dianggap Sebagai Ancaman Bagi Belanda, Diasingkan ke pulau seribu

BUKTI SEJARAH: H. Saparudin (berkacamata) saat melihat kondisi makam salah satu kerabat dari Raja Pandita, yaitu makam Pangeran Besar yang berada di Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Malinau, Selasa (14/3). AGUSSALAM SANIP / RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, MALINAU – Nama Raja Pandita sangat melegenda dan tercatat dalam sejarah Belanda saat menjajah Indonesia. Tercatat karena dikenal sebagai salah satu raja yang kuat pendirian tidak akan menyerah kepada Belanda, sehingga ia diasingkan sampai akhirnya wafat di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta oleh Belanda.

Raja Pandita juga melegenda karena dikenal sebagai raja yang arif dan bijaksana serta dianggap sebagai raja yang memersatukan suku-suku yang dulunya berkonflik, menjadi tidak berkonflik lagi.

Terkait bukti keberadaan Suku Tidung dalam hal ini Raja Pandita dan keluarganya di Malinau dan sekitarnya, Ketua Lembaga Adat Besar Tidung Malinau, H. Saparudin menjelaskan bahwa, mereka sudah ada sejak dulu dan menyebar mulai dari Kabupaten Tana Tidung (KTT) sampai di Malinau yang dibuktikan juga dengan adanya makam-makam keluarganya yang sudah tua. Seperti yang ada di Sebawang, KTT yang merupakan makam Raja Tua yang masih keluarga Raja Pandita.

“Termasuk makam yang ada di Belakang IPA PDAM Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang. Itu adalah saudara beliau (Pangeran Besar), kemudian yang di Seberang di Mentarang Baru tepatnya di ujung jembatan ada juga di situ makam keluarga beliau,” ujar H.Saparudin yang pada hari Selasa (14/3) kemarin mengajak pewarta bersama kerabatnya yang lain melihat langsung makam Pangeran Besar di Mentarang.

H. Saparudin yang juga merupakan keturunan langsung dari keluarga Raja Pandita dan Raja Dinda, menceritakan riwayat Raja Pandita yang ia dapatkan dari cerita orang tuanya dulu.

Raja Pandita adalah seorang raja pemersatu suku-suku yang ada di daerah Malinau dan di sekitarnya.

Sebagai sebuah kehormatan dan sebagai bukti arif dan bijaknya, serta dianggap sebagai panutan dan pahlawan, nama Raja Pandita, kata H. Saparudin dijadikan sebuah nama jalan dan juga dijadikan nama Batalion di Malinau, yaitu Batalion Infanteri 614 Raja Pandita.

“Waktu acara di Pulau Tidung beberapa waktu lalu, diupacarakan secara militer. Beliau ini dibuang atau diasingkan oleh Belanda karena tidak mau menyerah dan tidak mau patuh kepada Belanda, akhirnya dibuang ke Pulau Jawa, tepatnya yang sekarang di Kepulauan Seribu. Tempat makam beliau di Pulau Tidung,” ungkapnya.

“Nah kemudian, karena beliau tidak mau menyerah, akhirnya beliau wafat di sana. Akhirnya tidak dipulangkan,” tambahnya.

Menambahkan apa yang disampaikan H. Saparudin, Aji Iskandar Ahmad, selaku pengurus di Lembaga Adat Besar Tidung Malinau yang juga masih kerabat dari Raja Pandita, menceritakan sesuai cerita yang ia dapat dari kakeknya, bahwa Raja Pandita adalah orang yang menginisiasi agar tidak lagi terjadi perang antar suku di daerah sekitar Kewedanaan Tana Tidung, yang dulu mencakup KTT dan Malinau.

Menurut cerita, katanya, di sekitar Sungai Sebamban Malinau Kota, Raja Pandita mengumpulkan suku-suku yang ada dan membuat kesepakatan agar tidak lagi ada perang antar suku.

“Saya pernah diceritakan oleh kakek saya, di Sungai Sebamban itu dulu ada pohon mangga besar tempat mengumpulkan suku-suku ini. Beliau (Raja Pandita, Red) mengundang dari berbagai suku untuk hadir di sana. Mereka tidak tahu bahwa akan dikumpulkan dan suku-suku lain ini diundang. Begitu sampai di sana mereka kaget. Ketemu semua di sana, hanya karena mereka segan dengan Raja Pandita, mereka tidak berperang adu fisik di sana. Padahal mereka lagi konflik dan oleh Raja Pandita, mereka semua pegang rambutnya sambil memegang sebuah senjata sebagai sumpah bahwa tidak ada lagi perang antar suku,” ujarnya menirukan cerita kakeknya.

“Jadi setelah itu tidak boleh lagi suku-suku ini saling menyerang dengan perjanjian itu. Sejak itulah bilang Raja Pandita, bilamana kalian (suku-suku) ada berkonflik lagi, akan berhadapan dengannya. Setelah itulah tidak ada lagi konflik antar suku di wilayah ini yang dulu masuk wilayah Kewedanaan Tana Tidung sampai ke hulu sungai,” tambahnya.

Dilanjutkan H. Saparudin, yang juga didampingi H. Kadri yang merupakan generasi kelima dari Maharaja Dinda  Panembahan, dulu, sebagai bukti patuh dan kecintaannya suku-suku ini kepada Raja Pandita, pada saat Raja Pandita dijemput Belanda dan akan dibuang ke Jawa, saat itu Raja Pandita sudah dikelilingi armada-armada atau suku-suku yang siap berperang melawan Belanda agar tidak dibawa.

“Sudah siap perang, tinggal komando beliau saja. Tapi beliau melarang, tidak usah, cukup saya saja yang dibawa, nanti kalian banyak yang menjadi korban apa segalanya. Nah itu bukti cintanya beliau kepada suku-suku yang lain. Akhirnya beliau sendiri yang berkorban dibuang dan sampai wafat di sana (Pulau Tidung, Red),” kisahnya.

“Yang pertama, dulu beliau dibuang ke Banjarmasin, karena pakai kapal. Kemudian diasingkan lagi ke Jepara, Jawa Tengah, setelah itu baru ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta,” sambung Aji Iskandar Ahmad.

Halaman:

BACA JUGA

Selasa, 12 Desember 2017 10:44

Sayur Ilegal Mudah Ditemui

TARAKAN – Berbatasan langsung dengan Negara Malaysia, membuka peluang masuknya bahan makanan ke…

Selasa, 12 Desember 2017 10:41

Lima Bulan Berturut-turut Alami Deflasi

TARAKAN - Kota Tarakan pada November 2017 mengalami deflasi sebesar 0,18 persen. Di mana terjadi perubahan…

Selasa, 12 Desember 2017 10:38

Sopir Angkot Ditemukan Tak Bernyawa

TARAKAN - Tadi malam (11/12), seorang pria nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Sebastianus…

Selasa, 12 Desember 2017 10:34

BY Penjual Obat, Ditetapkan Tersangka

TARAKAN – Tak hanya IR dan AR saja yang akan dijerat persoalan hukum karena pembuangan janin di…

Selasa, 12 Desember 2017 10:32

PDIP Belum Seratus Persen ke Ince

Usai menyatakan kepastian akan menggandeng Muhammad Ince Rifai dalam pilwali 2018 mendatang, keputusan…

Selasa, 12 Desember 2017 10:31

Kejari Masih Meneliti Berkas Kasus Pungli E-KTP

TARAKAN - Kasus dugaan pungutan liar (pungli)  yang melibatkan AB, oknum ketua rukun tetangga (RT)…

Selasa, 12 Desember 2017 10:30

Suket dan KK Mencurigakan yang Diperiksa

TARAKAN- Menjelang masa pemilihan calon wali kota (pilwali) 2018 mendatang, masyarakat perlu tahu terkait…

Selasa, 12 Desember 2017 10:29

Jelang Natal dan Tahun Baru Harga Telur Naik

TARAKAN – Menjelang Natal dan Tahun Baru, sejumlah harga kebutuhan pokok di pasaran mulai mengalami…

Selasa, 12 Desember 2017 10:27

Kondensat Bukan Kewenangan PLN

TARAKAN – Meskipun PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Layanan Khusus (ULK) Tarakan sudah…

Selasa, 12 Desember 2017 10:26

Jembatan Ambruk dan Hampir Putus

TARAKAN – Kondisi jembatan di wilayah RT 11 Kelurahan Pantai Amal sejak empat tahun ambruk dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .