MANAGED BY:
SENIN
26 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Rabu, 15 Maret 2017 10:55
Raja Pandita Pemersatu Suku-Suku

Dianggap Sebagai Ancaman Bagi Belanda, Diasingkan ke pulau seribu

BUKTI SEJARAH: H. Saparudin (berkacamata) saat melihat kondisi makam salah satu kerabat dari Raja Pandita, yaitu makam Pangeran Besar yang berada di Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Malinau, Selasa (14/3). AGUSSALAM SANIP / RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, MALINAU – Nama Raja Pandita sangat melegenda dan tercatat dalam sejarah Belanda saat menjajah Indonesia. Tercatat karena dikenal sebagai salah satu raja yang kuat pendirian tidak akan menyerah kepada Belanda, sehingga ia diasingkan sampai akhirnya wafat di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta oleh Belanda.

Raja Pandita juga melegenda karena dikenal sebagai raja yang arif dan bijaksana serta dianggap sebagai raja yang memersatukan suku-suku yang dulunya berkonflik, menjadi tidak berkonflik lagi.

Terkait bukti keberadaan Suku Tidung dalam hal ini Raja Pandita dan keluarganya di Malinau dan sekitarnya, Ketua Lembaga Adat Besar Tidung Malinau, H. Saparudin menjelaskan bahwa, mereka sudah ada sejak dulu dan menyebar mulai dari Kabupaten Tana Tidung (KTT) sampai di Malinau yang dibuktikan juga dengan adanya makam-makam keluarganya yang sudah tua. Seperti yang ada di Sebawang, KTT yang merupakan makam Raja Tua yang masih keluarga Raja Pandita.

“Termasuk makam yang ada di Belakang IPA PDAM Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang. Itu adalah saudara beliau (Pangeran Besar), kemudian yang di Seberang di Mentarang Baru tepatnya di ujung jembatan ada juga di situ makam keluarga beliau,” ujar H.Saparudin yang pada hari Selasa (14/3) kemarin mengajak pewarta bersama kerabatnya yang lain melihat langsung makam Pangeran Besar di Mentarang.

H. Saparudin yang juga merupakan keturunan langsung dari keluarga Raja Pandita dan Raja Dinda, menceritakan riwayat Raja Pandita yang ia dapatkan dari cerita orang tuanya dulu.

Raja Pandita adalah seorang raja pemersatu suku-suku yang ada di daerah Malinau dan di sekitarnya.

Sebagai sebuah kehormatan dan sebagai bukti arif dan bijaknya, serta dianggap sebagai panutan dan pahlawan, nama Raja Pandita, kata H. Saparudin dijadikan sebuah nama jalan dan juga dijadikan nama Batalion di Malinau, yaitu Batalion Infanteri 614 Raja Pandita.

“Waktu acara di Pulau Tidung beberapa waktu lalu, diupacarakan secara militer. Beliau ini dibuang atau diasingkan oleh Belanda karena tidak mau menyerah dan tidak mau patuh kepada Belanda, akhirnya dibuang ke Pulau Jawa, tepatnya yang sekarang di Kepulauan Seribu. Tempat makam beliau di Pulau Tidung,” ungkapnya.

“Nah kemudian, karena beliau tidak mau menyerah, akhirnya beliau wafat di sana. Akhirnya tidak dipulangkan,” tambahnya.

Menambahkan apa yang disampaikan H. Saparudin, Aji Iskandar Ahmad, selaku pengurus di Lembaga Adat Besar Tidung Malinau yang juga masih kerabat dari Raja Pandita, menceritakan sesuai cerita yang ia dapat dari kakeknya, bahwa Raja Pandita adalah orang yang menginisiasi agar tidak lagi terjadi perang antar suku di daerah sekitar Kewedanaan Tana Tidung, yang dulu mencakup KTT dan Malinau.

Menurut cerita, katanya, di sekitar Sungai Sebamban Malinau Kota, Raja Pandita mengumpulkan suku-suku yang ada dan membuat kesepakatan agar tidak lagi ada perang antar suku.

“Saya pernah diceritakan oleh kakek saya, di Sungai Sebamban itu dulu ada pohon mangga besar tempat mengumpulkan suku-suku ini. Beliau (Raja Pandita, Red) mengundang dari berbagai suku untuk hadir di sana. Mereka tidak tahu bahwa akan dikumpulkan dan suku-suku lain ini diundang. Begitu sampai di sana mereka kaget. Ketemu semua di sana, hanya karena mereka segan dengan Raja Pandita, mereka tidak berperang adu fisik di sana. Padahal mereka lagi konflik dan oleh Raja Pandita, mereka semua pegang rambutnya sambil memegang sebuah senjata sebagai sumpah bahwa tidak ada lagi perang antar suku,” ujarnya menirukan cerita kakeknya.

“Jadi setelah itu tidak boleh lagi suku-suku ini saling menyerang dengan perjanjian itu. Sejak itulah bilang Raja Pandita, bilamana kalian (suku-suku) ada berkonflik lagi, akan berhadapan dengannya. Setelah itulah tidak ada lagi konflik antar suku di wilayah ini yang dulu masuk wilayah Kewedanaan Tana Tidung sampai ke hulu sungai,” tambahnya.

Dilanjutkan H. Saparudin, yang juga didampingi H. Kadri yang merupakan generasi kelima dari Maharaja Dinda  Panembahan, dulu, sebagai bukti patuh dan kecintaannya suku-suku ini kepada Raja Pandita, pada saat Raja Pandita dijemput Belanda dan akan dibuang ke Jawa, saat itu Raja Pandita sudah dikelilingi armada-armada atau suku-suku yang siap berperang melawan Belanda agar tidak dibawa.

“Sudah siap perang, tinggal komando beliau saja. Tapi beliau melarang, tidak usah, cukup saya saja yang dibawa, nanti kalian banyak yang menjadi korban apa segalanya. Nah itu bukti cintanya beliau kepada suku-suku yang lain. Akhirnya beliau sendiri yang berkorban dibuang dan sampai wafat di sana (Pulau Tidung, Red),” kisahnya.

“Yang pertama, dulu beliau dibuang ke Banjarmasin, karena pakai kapal. Kemudian diasingkan lagi ke Jepara, Jawa Tengah, setelah itu baru ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta,” sambung Aji Iskandar Ahmad.

Halaman:

BACA JUGA

Minggu, 25 Juni 2017 23:47

Karyawan Non Muslim Rela Menggantikan Jadwal Rekannya yang Muslim

Jika kebanyakan para pekerja diistirahatkan pada hari raya Idul Fitri, maka lain halnya dengan petugas…

Minggu, 25 Juni 2017 23:25

Enam Bayi Ini Lahir di Hari yang Fitri

TARAKAN — Petugas Bidan Kebidanan Terpadu, Ruang Bougenvile di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)…

Minggu, 25 Juni 2017 23:17

12 Ribu Umat Islam Penuhi Islamic Center

TARAKAN - Sekitar 12 ribu umat Muslim Minggu (25/6) melakukan salat Idul Fitri 1438 Hijriah di Masjid…

Minggu, 25 Juni 2017 12:24

Akses Parah! Padahal Jalan Ini yang Paling Dekat Menuju Masjid

TARAKAN - Ada yang miris dari perayaan kemeriahan Idul Fitri 1438 Hijiriah di Kelurahan Selumit Pantai.…

Minggu, 25 Juni 2017 09:25

Bupati Bulungan H.Sudjati Salat Id di Al-Munawwarah

TANJUNG SELOR - Sama seperti sebelumnya, Bupati Bulungan H.Sudjati kembali salat Idul Fitri 1348 Hijriah…

Sabtu, 24 Juni 2017 23:08

Padat Merayap...Puluhan Kendaraan dan Anak-Anak Warnai Malam Takbiran

TARAKAN - Puluhan kendaran roda dua dan roda empat meramaikan pawai takbiran keliling di Kota Tarakan,…

Sabtu, 24 Juni 2017 14:30

Alamak...Gas PGN Tidak Ngalir Terpaksa Pakai Minyak Tanah Masak Burasnya

TARAKAN - Aktivitas urusan dapur menjelang perayaan Idul Fitri, terhambat lantaran tidak adanya aliran…

Jumat, 23 Juni 2017 16:08

Catat...!!! Ini Rute Pawai Takbiran, Jangan Sampai Ketinggalan Ya...

TARAKAN -  Bagi warga Tarakan, jangan sampai ketinggalan menyaksikan pagelaran malam pawai takbiran…

Jumat, 23 Juni 2017 11:33

18 Motoris cek kesehatan

TARAKAN – Demi keselamatan pemudik yang menggunakan angkutan laut speedboat, kemarin Kesyahbandaran…

Jumat, 23 Juni 2017 11:31

Sipir Lapas Diciduk Paksa, Kemenkumham Protes

TARAKAN – Merasa dicederai oleh beberapa lembaga terkait, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .