MANAGED BY:
RABU
26 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Rabu, 15 Maret 2017 10:55
Raja Pandita Pemersatu Suku-Suku

Dianggap Sebagai Ancaman Bagi Belanda, Diasingkan ke pulau seribu

BUKTI SEJARAH: H. Saparudin (berkacamata) saat melihat kondisi makam salah satu kerabat dari Raja Pandita, yaitu makam Pangeran Besar yang berada di Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Malinau, Selasa (14/3). AGUSSALAM SANIP / RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, MALINAU – Nama Raja Pandita sangat melegenda dan tercatat dalam sejarah Belanda saat menjajah Indonesia. Tercatat karena dikenal sebagai salah satu raja yang kuat pendirian tidak akan menyerah kepada Belanda, sehingga ia diasingkan sampai akhirnya wafat di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta oleh Belanda.

Raja Pandita juga melegenda karena dikenal sebagai raja yang arif dan bijaksana serta dianggap sebagai raja yang memersatukan suku-suku yang dulunya berkonflik, menjadi tidak berkonflik lagi.

Terkait bukti keberadaan Suku Tidung dalam hal ini Raja Pandita dan keluarganya di Malinau dan sekitarnya, Ketua Lembaga Adat Besar Tidung Malinau, H. Saparudin menjelaskan bahwa, mereka sudah ada sejak dulu dan menyebar mulai dari Kabupaten Tana Tidung (KTT) sampai di Malinau yang dibuktikan juga dengan adanya makam-makam keluarganya yang sudah tua. Seperti yang ada di Sebawang, KTT yang merupakan makam Raja Tua yang masih keluarga Raja Pandita.

“Termasuk makam yang ada di Belakang IPA PDAM Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang. Itu adalah saudara beliau (Pangeran Besar), kemudian yang di Seberang di Mentarang Baru tepatnya di ujung jembatan ada juga di situ makam keluarga beliau,” ujar H.Saparudin yang pada hari Selasa (14/3) kemarin mengajak pewarta bersama kerabatnya yang lain melihat langsung makam Pangeran Besar di Mentarang.

H. Saparudin yang juga merupakan keturunan langsung dari keluarga Raja Pandita dan Raja Dinda, menceritakan riwayat Raja Pandita yang ia dapatkan dari cerita orang tuanya dulu.

Raja Pandita adalah seorang raja pemersatu suku-suku yang ada di daerah Malinau dan di sekitarnya.

Sebagai sebuah kehormatan dan sebagai bukti arif dan bijaknya, serta dianggap sebagai panutan dan pahlawan, nama Raja Pandita, kata H. Saparudin dijadikan sebuah nama jalan dan juga dijadikan nama Batalion di Malinau, yaitu Batalion Infanteri 614 Raja Pandita.

“Waktu acara di Pulau Tidung beberapa waktu lalu, diupacarakan secara militer. Beliau ini dibuang atau diasingkan oleh Belanda karena tidak mau menyerah dan tidak mau patuh kepada Belanda, akhirnya dibuang ke Pulau Jawa, tepatnya yang sekarang di Kepulauan Seribu. Tempat makam beliau di Pulau Tidung,” ungkapnya.

“Nah kemudian, karena beliau tidak mau menyerah, akhirnya beliau wafat di sana. Akhirnya tidak dipulangkan,” tambahnya.

Menambahkan apa yang disampaikan H. Saparudin, Aji Iskandar Ahmad, selaku pengurus di Lembaga Adat Besar Tidung Malinau yang juga masih kerabat dari Raja Pandita, menceritakan sesuai cerita yang ia dapat dari kakeknya, bahwa Raja Pandita adalah orang yang menginisiasi agar tidak lagi terjadi perang antar suku di daerah sekitar Kewedanaan Tana Tidung, yang dulu mencakup KTT dan Malinau.

Menurut cerita, katanya, di sekitar Sungai Sebamban Malinau Kota, Raja Pandita mengumpulkan suku-suku yang ada dan membuat kesepakatan agar tidak lagi ada perang antar suku.

“Saya pernah diceritakan oleh kakek saya, di Sungai Sebamban itu dulu ada pohon mangga besar tempat mengumpulkan suku-suku ini. Beliau (Raja Pandita, Red) mengundang dari berbagai suku untuk hadir di sana. Mereka tidak tahu bahwa akan dikumpulkan dan suku-suku lain ini diundang. Begitu sampai di sana mereka kaget. Ketemu semua di sana, hanya karena mereka segan dengan Raja Pandita, mereka tidak berperang adu fisik di sana. Padahal mereka lagi konflik dan oleh Raja Pandita, mereka semua pegang rambutnya sambil memegang sebuah senjata sebagai sumpah bahwa tidak ada lagi perang antar suku,” ujarnya menirukan cerita kakeknya.

“Jadi setelah itu tidak boleh lagi suku-suku ini saling menyerang dengan perjanjian itu. Sejak itulah bilang Raja Pandita, bilamana kalian (suku-suku) ada berkonflik lagi, akan berhadapan dengannya. Setelah itulah tidak ada lagi konflik antar suku di wilayah ini yang dulu masuk wilayah Kewedanaan Tana Tidung sampai ke hulu sungai,” tambahnya.

Dilanjutkan H. Saparudin, yang juga didampingi H. Kadri yang merupakan generasi kelima dari Maharaja Dinda  Panembahan, dulu, sebagai bukti patuh dan kecintaannya suku-suku ini kepada Raja Pandita, pada saat Raja Pandita dijemput Belanda dan akan dibuang ke Jawa, saat itu Raja Pandita sudah dikelilingi armada-armada atau suku-suku yang siap berperang melawan Belanda agar tidak dibawa.

“Sudah siap perang, tinggal komando beliau saja. Tapi beliau melarang, tidak usah, cukup saya saja yang dibawa, nanti kalian banyak yang menjadi korban apa segalanya. Nah itu bukti cintanya beliau kepada suku-suku yang lain. Akhirnya beliau sendiri yang berkorban dibuang dan sampai wafat di sana (Pulau Tidung, Red),” kisahnya.

“Yang pertama, dulu beliau dibuang ke Banjarmasin, karena pakai kapal. Kemudian diasingkan lagi ke Jepara, Jawa Tengah, setelah itu baru ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta,” sambung Aji Iskandar Ahmad.

Halaman:

BACA JUGA

Selasa, 25 April 2017 15:20

Bandar Narkoba Tak Berkutik

TARAKAN – Peredaran narkoba di Bumi Paguntaka tidak ada henti-hentinya. Terbukti dalam 4 bulan…

Selasa, 25 April 2017 14:51

Pastikan Tak Usung Figur di Luar Penjaringan

TARAKAN – Kemarin hari pertama penjaringan yang dibuka oleh Demokrat masih terlihat sepi. Belum…

Selasa, 25 April 2017 14:49

Rawan Kecurangan Jika Bawa HP

TARAKAN – Meski waktu pemilihan kepala daerah (pilkada) Tarakan masih 429 hari lagi, tetapi Komisi…

Selasa, 25 April 2017 13:49

Proyek Belum Selesai, Warga Harus Bersabar

TARAKAN – Proyek penanganan banjir di beberapa wilayah memang telah dilakukan. Bahkan, sebagian…

Selasa, 25 April 2017 13:40

Pertama di Kaltara, Radar Tarakan Diverifikasi SPS Kaltim 

TARAKAN - Tim Serikat Perusahaan Surat Kabar (SPS) Kaltim, Selasa (25/4/2017) menyambangi beberapa perusahaan…

Selasa, 25 April 2017 13:27

Tekan Kelahiran, Cukup Dua Anak

TARAKAN – Anggapan banyak anak banyak rezeki sampai saat ini masih saja berlaku di masyarakat…

Selasa, 25 April 2017 13:22

Efektif Gunakan Materai Teraan

TARAKAN – Penggunaan materai tempel tidak lagi menjadi hal wajib dalam pelunasan wajib pajak.…

Selasa, 25 April 2017 13:17

Diduga Pengedar, Janda Anak Enam Ditangkap

TARAKAN – Seorang ibu dari enam anak berinisial NL (40) yang menyandang status janda, terpaksa…

Selasa, 25 April 2017 13:11

Partai Politik vs Calon Kepala Daerah

MENCERMATI dan melihat perkembangan perpolitikan di Kota Tarakan menjelang pemilihan kepala daerah akhir-akhir…

Senin, 24 April 2017 21:13

dr Khairul “Loncat-Loncat” Partai

TARAKAN – Walau telah dinyatakan lolos verifikasi sebagai bakal calon (balon) kepala daerah di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .