MANAGED BY:
SABTU
19 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 14 Maret 2017 10:08
Tertantang saat Dipercaya Mengawaki Pesawat Tempur Sukhoi

Mengenal Sosok Letkol Pnb David “Great Hawk” Ali Hamzah

Letkol Pnb David Ali Hamzah

PROKAL.CO, Komandan Skadron Udara 11 Wing 5 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin Makassar, Letkol Pnb David Ali Hamzah adalah salah satu ‘Ksatria Penjaga Langit Negara Kesatuan Republik Indonesia’. Hingga saat ini, telah 17 tahun ia dedikasikan hidupnya membela dan mengabdi kepada negara  dengan menjadi seorang anggota Tentara Negara Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU), dan menjadi salah seorang penerbang terhebat yang dimiliki Bumi Pertiwi ini.

Johanny Silitonga, Tarakan

Beberapa waktu lalu langit Tarakan kembali dihiasi 3 unit Sukhoi, di mana Pangkalan Udara Tarakan sedang menggelar Latihan Kilat Cakra B-17 Kosekhanudnas II. Latihan yang dibuka oleh  Panglima Kosekhanudnas II Makassar, Marsekal Pertama TNI A Joko Takarianto pada Senin 6 hingga 10 Maret, minggu lalu. Latihan Kilat Cakra B-17 Kosekhanudnas II tersebut melibatkan alutsista 3 unit Sukhoi SU-27/30.

Di balik kokohnya pesawat Sukhoi yang juga sembari beroperasi perbatasan itu, terdapat seseorang pria tangguh dibalik kemudi pilot salah satu Sukhoi SU-27/30 dengan call sign “Great Hawk”. Sore hari yang cerah itu Jumat (10/3),  penulis berhasil menemui Letkol Pnb David “Great Hawk” Ali Hamzah.

Ia adalah salah satu dari enam penerbang yang mengawaki 3 unit Skukhoi SU-27/30 pada Latihan Kilat Cakra B-17 Kosekhanudnas II. Sapaan ramah ketika ia menyambut penulis, sesaat setelah menyelesaikan latihan terakhir pada hari itu dan Sabtu (11/3) mereka akan kembali ke Pangkalan Udara Hasanuddin Makassar.

Pria kelahiran, Kediri 2 Agustus 1976 yang memiliki call sign ‘Great Hawk’ itu mengaku bersyukur bisa melaksanakan Latihan Kilat Cakra B-17 Kosekhanudnas II di Pangkalan Udara Tarakan dengan baik dan tidak mengalami kendala apapun. Menurutnya ini sudah merupakan tugas dan tanggung jawab bagi setiap anggota TNI untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI.

Dalam melaksanakan tugas, Letkol Pnb David “Great Hawk” Ali Hamzah selalu memegang teguh prinsip hidup dengan mengutamakan agama dan senantiasa selalu mencintai keluarga, yang menjadi tempat pulang yang selalu dirindukan ketika bertugas di luar kota.

Anak kedua dari tiga bersaudara tersebut sudah terbiasa hidup disiplin sejak kecil. Ayahnya yang sangat ia hormati adalah seorang Purnawirawan Polri. Saat kecil kedua orang tuanya  memberikan perhatian penuh kepada dia dan kedua saudaranya. Ibunya yang ia hormati, mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Meski sang ayah merupakan Purnawirawan Polri, tetapi tak pernah memaksakan khendak yang sama harus diikuti oleh anak-anaknya. Tak disangka, letak rumahnya yang berdekatan dengan salah satu markas TNI  Angkatan Darat (AD) menjadikan, David kecil itu mulai berkeinginan untuk menjadi anggota TNI.

Garis takdir tak dapat dilawan, David yang kala itu dinyatakan lulus dari Akademi Angkatan Udara (AAU) pada 1998, dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Penerbangan TNI AU (Sekbang) dan lulus pada 2000. Selanjutnya, David menempuh pendidikan di SIP dan lulus pada 2008. Tak berhenti di situ, kemudian ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) angkatan 85 dan lulus pada 2009 silam. David, kembali diberi kesempatan untuk mengikuti Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau) dan lulus pada 2013 lalu.

Diceritakan David, awal karier militernya dimulai pada 1998 saat menjadi Pama Lanud Adi. Lalu pada 2000 ia dipercaya menjadi Pa Penerbang Skadron Udara 11 Lanud Hassanudin. Setelah itu, pada 2001 ia menjabat sebagai Ksbs Recdispatch Siops Skaud 11 Lanud Hnd. Pada  2004 dia, menjabat sebagai Pa Penerbang Skadron Udara 15 Lanud lwj.

Lalu Pada 2007 ia menjabat sebagai Kasi Spec Diops Skadron Udara 15 Lanud lwj. Tahun selanjutnya pada 2008, ia diberikan kepercayaan menjadi Pa Instruktur Wingdikterbang. Setelah itu, pada tahun 2009 ia menjabat sebagai Instruktur Pnb Gol VI Wingdikterbang Lanud Adi. Lalu  2010 ia menjabat sebagai Dan Fit Ops “A” Skadud 11 Lanud Sultan Hnd,  dua tahun kemudian pada 2012 ia menjabat sebagai Kasi Ops Skadud 11 Lanud Sultan Hnd.

Tepat 2013, dirinya dipercaya menjadi P.S. Karuops Lanud Sultan Hnd, tidak lama kemudian dia dipercaya menjadi P.S. Kasi Baseops Disops Lanud Sultan Hnd. Sebelum diangkat menjadi Komandan Skadron Udara 11 Wing 5 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin Makassar pada Kamis 14 Juli 2016, ia menjabat Kasi Opslat Disops lanud Sultan Hnd.

Great Hawk tercatat telah benyak mendapatkan penghargaan dan tanda kehormatan. Mulai dari Tanda Kehormatan Satyalencana Kesetiaan VII, lalu Tanda kehormatan Dharma Nusa, dan Tanda Kehormatan Dwidja Sistha. Saat ini ia menjabat sebagai Komanadan Skuadron Udara 11 Wing 5 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin Makassar.

Begitu banyak pengalaman hidup yang David rasakan, selama menjadi penerbang pesawat tempur TNI AU. Mulai dari mengenal budaya lain, berkenalan dan bersosialisasi dengan orang-orang baru, hingga bisa berpergian mengelilingi nusantara. Sudah beberpa pesawat yang ia awaki mulai dari pesawat tempur A-4 Skyhawk, Hawk MK-53, dan kini Sukhoi SU-27/30.

Saat dipercaya mengawaki pesawat tempur Sukhoi SU 27/30, ia sangat tertantang. Hal itu dikarenakan pesawat tempur Shukoi SU 27/30 sangat modern dan memiliki instrument yag sangat kompleks. Berbeda dengan pesawat-pesawat terdahulu yang ia awaki masih manual. Namun dengan Shukoi SU-27/30 yang saat itu menggunakan bahasa Rusia, justru menjadi tantangan tersendiri baginya. Hingga ia dipercayakan untuk belajar ke Rusia dan mendapat pelatihan dari instrukstur pesawat Sukhoi SU-27/30 selama 4 bulan.

Saat ditugaskan belajar ke Rusia, David kerap kali mengalami kerinduan pada Indonesia terutama keluarga dan istri. Meski begitu, sejak memutuskan untuk mengabdi pada negara David sudah menanamkan pada dirinya harus siap ditugaskan di mana saja termasuk harus siap untuk berjauhan dengan keluarga.

“Pada saat saya tugas belajar, waktu itu kami baru akan berencana menikah. Saya sudah memberitahukan istri saya (Eko Purwani) harus selalu siap apabila harus hidup berjauhan. Pernah waktu saya bertugas di desa terpencil yang letaknya jauh selama 1 bulan, kami mau tidak mau harus berpisah sementara karena tugas dan kewajiban saya,” cerita David.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 18 Januari 2019 12:20

Lima Bulan Terakhir, Produksi Sampah Berkurang

TARAKAN - Meski Tempat Pembuangan Sampah (TPA) saat ini sangat…

Jumat, 18 Januari 2019 12:17

Ditemukan Dompeng, Diduga Milik Rustan

TARAKAN - Tim SAR gabungan yang melakukan pencarian terhadap warga…

Jumat, 18 Januari 2019 12:15

Dahlan Iskan: Pers Itu Lembaga Perjuangan

SAMARINDA - Pers tak hanya sekadar pekerjaan yang dapat dijadikan…

Jumat, 18 Januari 2019 12:13

Sembilan ASN Melanggar, Diberikan Pembinaan

TARAKAN - Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan telah melakukan pengawasan dan…

Jumat, 18 Januari 2019 12:12

Jadwal Ujian Nasional Dimajukan

TARAKAN - Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang akan diselenggarakan pada…

Jumat, 18 Januari 2019 11:43

Terdakwa Mengaku Hanya Iseng Membuat Video

TARAKAN – Terdakwa terduga terorisme yaitu Agus Salim mengungkapkan alasan…

Jumat, 18 Januari 2019 11:24

Beli Sabu, Petani Rumput Laut Diamankan Anggota Marinir

TARAKAN – Dua pria yang diketahui merupakan petani rumput laut…

Jumat, 18 Januari 2019 10:32

Ilmu Kepemimpinan Harus Dimiliki Kepala Sekolah

TARAKAN - Panggilan menjadi seorang pemimpin di sekolah bukanlah hal…

Jumat, 18 Januari 2019 10:30

Konstruksi Hancur Digenangi Air

TARAKAN - Kerusakan jalan masih menjadi sorotan teratas bagi masyarakat.…

Jumat, 18 Januari 2019 09:55

Perwali Penggunaan Plastik Segera Diberlakukan

TARAKAN - Akibat sulit didaur ulang, sampah plastik di Bumi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*