MANAGED BY:
SENIN
26 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Senin, 13 Maret 2017 11:49
Mengungkap Sejarah Perjalanan Suku Dayak Bulusu
Pelarian 200 Tahun Lalu Mewariskan Makam
MAKAM LELUHUR: Terdapat tiga baloi patoi atau rumah kematian warga suku Dayak Bulusu. Makam ini diperkirakan telah ada sejak 200 tahun lalu. Kepala Adat Suku Dayak Bulusu KTT, Gani sedang membersihkan sisa tulang belulang yang terjatuh ke dalam tempayan, di kawasan hutan Batu Paradu, Sungai Sedulun, Desa Sedulun Kecamatan Sesayap KTT, pekan lalu (3/3). YEDIDAH PAKONDO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, INDONESIA adalah negeri yang kaya “gemah ripah loh jinawi”. Kekayaan itu tidak hanya dari hasil alam saja, tetapi pada ragam suku, bahasa, agama, kepercayaan, dan adat istiadat. Untuk kekayaan suku bangsa saja, Indonesia memiliki ratusan nama suku bahkan ribuan jika dirinci hingga subsukunya. Hingga hari ini, ada sekitar 1.340 jenis suku di Indonesia. Angka ini semakin menegaskan bahwa Indonesia adalah Negara dengan jumlah suku bangsa terbanyak di dunia. Meskipun begitu jumlah suku di Indonesia sulit sekali untuk dirincikan. Termasuk suku yang ada di Pulau Kalimantan.

SUKU Dayak salah satunya. Suku Dayak memiliki 7 rumpun suku dengan 405 subsuku kecilnya. Banyaknya jumlah subsuku ini dikarenakan arus migrasi yang kuat dari para pendatang, sehingga Suku Dayak semakin terdesak dan akhirnya memilih masuk ke pedalaman hutan.

Akibatnya, Suku Dayak menjadi terpencar-pencar dan menjadi sub-sub etnis tersendiri. Suku Dayak Bulusu justru memiliki cerita sendiri. Pasalnya, mereka tidak hanya menetap di suatu kawasan saja. Namun suku yang terkenal berpindah-pindah tempat ini memiliki banyak lokasi yang hingga kini menjadi perkampungan yang dihuni suku Dayak Bulusu.

Asal muasal suku Dayak Bulusu berasal dari Gong Sulok, yang berada di hulu Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Konon sejarahnya, Suku Dayak Bulusu diturunkan Tuhan di daerah tersebut untuk hidup dan berkembang biak.

Selama ratusan tahun, suku Dayak Bulusu menetap di Gong Sulok. Mereka bahagia dan nyaman menetap di lokasi tersebut. Kenyamanan dan keberhasilan suku Dayak Bulusu dibuktikan dari pembuatan sebuah gua sarang burung wallet yang berhasil dibuat oleh para nenek moyang suku Dayak Bulusu saat itu.

Pada zaman itu, hanya suku Dayak Bulusu saja yang memiliki sebuah gua sarang burung hingga membuat suku-suku lain yang di sekitarnya merasa tersaingi, dan menimbulkan perasaan iri.

Suku Dayak Bulusu memiliki permasalahan dengan suku Dayak Merab, Dayak Ma’Kulit dan lainnya. Karena terletak di tengah-tengah ancaman ketiga suku tersebut, suku Dayak Bulusu pun merasa terancam. Para tetua harus membuat sebuah keputusan untuk mempertahankan keturunan suku Dayak Bulusu.

“Karena terhimpit di tengah-tengah suku yang lain, maka nenek moyang kami (suku Dayak Bulusu, Red.) tidak tahan,” ungkap Gani (65), Kepala Adat Suku Dayak Bulusu Kabupaten Tana Tidung.

Karena rasa yang tidak nyaman itulah, membuat suku Dayak Bulusu memilih menghindar dan akhirnya meninggalkan Gong Sulok. Untuk mempertahankan hidup, suku Dayak Bulusu singgah dari lokasi satu, ke lokasi yang lain untuk membuat rumah sebagai tempat berlindung dari ancaman suku lain. “Nenek moyang kami berpindah-pindah tempat, karena dikejar oleh musuh pada waktu itu,” kata Gani.

Namun, perpindahan dari satu lokasi ke lokasi yang lain, tidak dilakukan setiap hari oleh nenek moyang suku Dayak Bulusu. Perpindahan lokasi tersebut dilakukan dalam hitungan tahun.

Karena sempat menetap selama beberapa tahun di kawasan yang berbeda-beda, membuat suku Dayak Bulusu sempat untuk bercocok tanam dan menghasilkan beberapa hasil kebun seperti buah, dan sayur-sayuran. Karena itulah, hingga kini beberapa kawasan hutan di Kalimantan Utara memiliki pohon buah-buahan dan sayuran.

Lokasi terakhir yang menjadi pelarian suku Dayak Bulusu dari kejaran musuh adalah kawasan sungai Bulusu yang terletak di Sekatak Buji, Kalimantan Utara.

Disebut sebagai sungai Bulusu, sebagai tanda pelarian terakhir suku Dayak Bulusu dari kejaran musuh. Setelah aman dari peperangan dan nyaman karena telah berada di kawasan sungai Bulusu, terkenang kembali lokasi awal suku Bulusu diciptakan oleh Tuhan, yakni di kawasan Gong Sulok.

Di benak mereka, Gong Sulok merupakan tanah kelahiran nenek moyang suku Dayak Bulusu. Sehingga timbullah niat suku Dayak Bulusu untuk kembali ke lokasi Gong Sulok.

Akan tetapi, masih ada beberapa orang dari suku Dayak Bulusu yang tidak ingin meninggalkan lokasi sungai Bulusu hingga membuat suku Dayak Bulusu terpecah. Sebagian pergi dengan niat untuk mengambil kembali tanah kelahiran suku Dayak Bulusu, di kawasan Gong Sulok, namun sebagian lagi memilih menetap karena merasa telah nyaman di kawasan sungai Bulusu.

Karena tetap menginginkan tanah kelahiran, suku Dayak Bulusu rela menjelajah beberapa kawasan, seperti kawasan Betayau, Sebawan dan Sedulun. Perpindahan terakhir suku Dayak Bulusu adalah di kawasan sungai Bengalun.

Namun, setibanya di lokasi tersebut, suku Dayak Bulusu kecewa karena lahan dan sarang burung yang dibangun para leluhurnya sudah ditempati oleh suku yang lain, hingga membuat suku Dayak Bulusu tidak dapat merebut kembali tanah kelahirannya, dan memutuskan untuk mencari kawasan yang lain. “Jadi mau tidak mau, kami terbagi-bagi tempat domisili,” jelasnya.

Hingga kini, lokasi-lokasi yang menjadi sebaran suku Dayak Bulusu terletak di kawasan Sekatak, Sebidai, Betayau, Sungai Sebawang, Sedulun, Rian, dan Seputuk. Namun, bagi suku Dayak Bulusu yang nekat ingin merebut kembali tanah kelahirannya, akhirnya menetap di kawasan Sesua Bengalun, yang terletak di Kabupaten Malinau.

Untuk diketahui, mata pencaharian suku Dayak Bulusu mayoritas adalah menggesek kayu dari hutan, bertani, dan berkebun. “Dulu usaha kami itu, rotan dan damar. Namun karena semua (bahan) itu telah habis, jadi kami mencari mata pencaharian lain sekadar untuk makan dan membangun rumah,” ungkapnya.

Halaman:

BACA JUGA

Minggu, 25 Juni 2017 23:47

Karyawan Non Muslim Rela Menggantikan Jadwal Rekannya yang Muslim

Jika kebanyakan para pekerja diistirahatkan pada hari raya Idul Fitri, maka lain halnya dengan petugas…

Minggu, 25 Juni 2017 23:39

Dari Tradisi Open House Rutin Setiap Tahun, Takjub akan Semangat Gotong Royong

Nuansa lebaran  selalu diidentikkan dengan tradisi open house agar suasana Idul Fitri terasa lebih…

Minggu, 25 Juni 2017 23:25

Enam Bayi Ini Lahir di Hari yang Fitri

TARAKAN — Petugas Bidan Kebidanan Terpadu, Ruang Bougenvile di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)…

Minggu, 25 Juni 2017 23:17

12 Ribu Umat Islam Penuhi Islamic Center

TARAKAN - Sekitar 12 ribu umat Muslim Minggu (25/6) melakukan salat Idul Fitri 1438 Hijriah di Masjid…

Minggu, 25 Juni 2017 12:24

Akses Parah! Padahal Jalan Ini yang Paling Dekat Menuju Masjid

TARAKAN - Ada yang miris dari perayaan kemeriahan Idul Fitri 1438 Hijiriah di Kelurahan Selumit Pantai.…

Minggu, 25 Juni 2017 09:25

Bupati Bulungan H.Sudjati Salat Id di Al-Munawwarah

TANJUNG SELOR - Sama seperti sebelumnya, Bupati Bulungan H.Sudjati kembali salat Idul Fitri 1348 Hijriah…

Sabtu, 24 Juni 2017 23:08

Padat Merayap...Puluhan Kendaraan dan Anak-Anak Warnai Malam Takbiran

TARAKAN - Puluhan kendaran roda dua dan roda empat meramaikan pawai takbiran keliling di Kota Tarakan,…

Sabtu, 24 Juni 2017 14:30

Alamak...Gas PGN Tidak Ngalir Terpaksa Pakai Minyak Tanah Masak Burasnya

TARAKAN - Aktivitas urusan dapur menjelang perayaan Idul Fitri, terhambat lantaran tidak adanya aliran…

Jumat, 23 Juni 2017 16:08

Catat...!!! Ini Rute Pawai Takbiran, Jangan Sampai Ketinggalan Ya...

TARAKAN -  Bagi warga Tarakan, jangan sampai ketinggalan menyaksikan pagelaran malam pawai takbiran…

Jumat, 23 Juni 2017 11:33

18 Motoris cek kesehatan

TARAKAN – Demi keselamatan pemudik yang menggunakan angkutan laut speedboat, kemarin Kesyahbandaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .