MANAGED BY:
RABU
23 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Senin, 13 Maret 2017 11:45
Mengungkap Sejarah Perjalanan Suku Dayak Bulusu
Tumbal Kepala Manusia, Ditinggalkan Sejak 1960-an
YEDIDAH PAKONDO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, BANYAK hal yang akan membuat Anda terheran-heran ketika mengetahui ritual pemakaman suku Dayak Bulusu. Sebab, suku yang tempat domisilinya terpencar di Kalimantan Utara ini memiliki tradisi yang berbeda dan memiliki keunikan saat melakukan ritual pemakaman.

Pada zaman dahulu, ketika salah satu warga suku Dayak Bulusu ada yang meninggal, maka harus ada ritual-ritual yang dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat suku Dayak Bulusu.

Ritual pemakaman tersebut sangat wajib untuk dilakukan, karena sudah mendarah daging bagi leluhur suku Dayak Bulusu di zaman itu.

Kepala Adat Besar Dayak Bulusu Kalimantan Utara, Drs Jabin Jantje mengatakan, sebelum dilakukan pemakaman, jenazah lebih dulu diberikan sebilah Mandau untuk digenggam di tangan jenazah laki-laki, sedangkan untuk jenazah yang berjenis kelamin perempuan diberikan pisau dapur yang juga digenggam di tangan jenazah.

Hal ini bertujuan agar roh yang meninggal tersebut bisa melakukan balas dendam kepada setan yang menyebabkan kematiannya.

Setelah melakukan ritual pegang mandau atau pisau dapur pada jenazah, ritual selanjutnya yang akan dilakukan adalah pemukulan gong dengan memakai alat pukul yang dinamakan kungkung bogog. Ritual ini dalam bahasa Dayak Bulusu disebut tatawag. Dipukulnya gong tersebut, bertujuan untuk memberikan pengumuman kepada seluruh warga kampung, jikalau ada yang meninggal.

Untuk diketahui, ritual tatawag tersebut biasanya dilakukan 3 kali dalam selang waktu masing-masing 1 jam.

Untuk menggelar sebuah pesta kematian yang lancar, pihak keluarga harus rela jenazah keluarganya diletakkan selama berbulan-bulan, bahkan hingga 1 tahun di dalam rumah. Mengingat pihak keluarga harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan pesta pemakaman jenazah tersebut.

Menurut hukum adat Suku Bulusu yang berlaku, sebelum melakukan ritual pemakaman jenazah, diharuskan ada tumbal kepala manusia.

Prosesi pemakaman, yang paling utama dilakukan oleh pihak keluarga yang berduka adalah melakukan pencarian kepala manusia atau yang dalam bahasa Dayak Bulusu disebut ngayao yang artinya mencari kepala manusia. Jika telah mendapatkan kepala manusia, barulah keluarga dapat melakukan nyanyian selumad yang dilakukan oleh wanita sambil diiringi musik babancal oleh kaum pria.

“Intinya, kepala manusia yang didapat itu adalah kepala musuh,” ujarnya.

Setelah dilakukan nyanyian selumad, para keluarga kemudian melakukan tarian pasak umbus yang mengartikan bahwa pihak keluarga telah mendapatkan sebuah kepala manusia.

Untuk diketahui, jenis tumbal kepala manusia yang digunakan tidak memilih golongan umur maupun jenis kelamin.

Selanjutnya adalah pembuatan lungun atau peti mati untuk jenazah. Jenis kayu yang dipakai pada lungun adalah kayu ulin. Tidak diperkenankan jika harus memakai kayu jenis lain. Sebab kayu ulin menjadi sebuah syarat untuk membuat lungun bagi suku Dayak Bulusu.

Jika biasanya, pembuatan lungun dilakukan dengan memaku antara kayu yang satu dengan yang lain. Namun, lungun yang digunakan oleh nenek moyang suku Dayak Bulusu di zaman itu adalah sebuah kayu yang dipahat agar membentuk sebuah perahu yang diukur sesuai dengan tinggi dan lebar jenazah. Proses pembuatan lungun tersebut membutuhkan waktu hingga berhari-hari.

Setelah lungun selesai, barulah jenazah diletakkan ke dalam lungun, tetapi harus seizin keluarga lebih dulu. Proses memasukkan jenazah ke dalam lungun disebut nyulod. Di dalam lungun, jenazah tersebut dibekalkan dengan gayung, pakaian dan alat-alat yang biasanya digunakan oleh jenazah semasa hidupnya seperti mandau, parang dan sumpit, diberikan dan diletakkan di luar peti.

Bagi masyarakat suku Dayak Bulusu, kematian merupakan suatu perpindahan kehidupan umat manusia. Untuk itu, mereka percaya bahwa kehidupan roh akan sama seperti kehidupan manusia yang masih hidup saat ini, hal tersebut biasa dinamakan Lundoyon. Untuk itu, segala pemberian dinilai penting untuk diberikan pada jenazah sebagai bekal hidup di alam roh.

Nah, setelah nyulod selesai, masyarakat suku Dayak Bulusu akan melakukan naub yaitu menutup lungun yang sudah berisi mayat yang dilakukan oleh tua-tua adat yang diiringi oleh pukulan gong dan tambur pukulan yang disebut dengan tuntung balau dan babancal.

Sekretaris Lembaga Adat Besar Dayak Bulusu Kalimantan Utara, Saiful (40) mengatakan, sejak terpanggilnya keluarga yang meninggal, maka persiapan pembuatan rumah makam (Baloi Patoi) harus secara perlahan-lahan dilakukan.

Mengingat pembuatan dari baloi patoi tidaklah mudah. Pada pembuatan Baloi Patoi, jenis kayu yang digunakan adalah kayu ulin yang dibelah tanpa menggunakan mesin pemotong kayu atau senso, karena di zaman itu belum ada senso.

Setelah kayu dibelah, kemudian kayu tersebut ditata dan diukir sedemikian rupa sehingga membutuhkan proses yang cukup panjang. Untuk itulah, sebelum melakukan pemakaman, masyarakat suku Dayak Bulusu perlu menyiapkan sebuah baloi patoi.

Untuk diketahui, jenis pukulan gong mengandung 2 pengertian. Ada pukulan tetokon dan pukulan babancal. Pada pukulan babancal, menandakan bahwa ada orang meninggal yang akan segera dikuburkan. Sedangkan untuk tetokon, menandakan hadirnya tamu undangan (pelayat) yang datang.

Setelah melakukan ritual naub, selanjutnya adalah nyangking patoi yang berarti menganyam pucuk daun silad yang diiringi dengan pukulan gong dan tambur dengan pukulan babancal yang juga diiringi lagu-lagu oleh ibu-ibu yang disebut dengan nculumad.

Teknik menganyam daun silad pun harus diletakkan di atas peti dan panjangnya harus menutupi peti. Menurut sejarahnya, jika masyarakat suku Dayak Bulusu meninggal, maka akan terjadi pergantian yakni dari lungun menjadi sebuah perahu untuk orang meninggal. Kemudian, anyaman dari daun sila tersebut diartikan sebagai atap bagi orang meninggal.

Dalam sebuah pesta kematian, tidak lengkap rasanya tanpa harus melakukan pesta perjamuan makanan. Nah, dalam ritual pemakaman suku Dayak Bulusu ada 4 jenis cara makan yang digunakan yaitu makanan umum, yakni makanan biasa yang diberikan pada waktu pagi, siang dan malam hari (seperti jadwal makan biasa). Pada makanan biasa ini bebas untuk dinikmati oleh semua pelayat.

Yang kedua adalah akan pintod nyangking atau yang disebut juga batakan, yaitu makanan yang disajikan sewaktu akan menganyam pucuk daun silad. Khusus akan pintod nyangking ini, hanya boleh dinikmati oleh petugas-petugas dan para orang tua/tua-tua adat. Cara meletakkan makanan akan pintod nyangking ini pun harus diletakkan di pinggir peti jenazah.

Ritual makan yang ketiga adalah akan pencuwaian yaitu makanan yang disajikan setelah acara nyangking selesai dan bersiap untuk melakukan penguburan. Dalam ritual akan pencuwaian, seluruh makanan harus diletakkan mengelilingi peti mati, namun khusus akan pencuwaian ini, hanya boleh dinikmati oleh keluarga dari almarhum. Kemudian ritual makan yang terakhir adalah akan abi sagang atau pintod ngobong yakni makanan yang disedikan dalam jumlah banyak dan memenuhi seluruh ruangan di rumah duka.

“Dengan catatan, semua makanan tersebut disertai dengan pangasi atau ciu atau jakan atau tuak, dan sebagainya,” jelasnya.

Perlu diketahui, perjamuan makanan tersebut biasanya dilakukan selama 1 minggu, yakni selama mengadakan pesta pemakaman. Karena harus memiliki dana yang cukup besar untuk melakukan perjamuan makan tersebut, maka suku Dayak Bulusu harus bekerja keras untuk pemenuhan perjamuan tersebut.

Nah, sambil melakukan perjamuan makanan, pesta pemakaman suku Dayak Bulusu di zaman dulu selalu diiringi oleh nyanyian yang dinamakan Selumad yakni sebuah nyanyi-nyanyian yang dilakukan oleh para perempuan.

Perlu diketahui, nyanyian Selumad tidak boleh dilakukan sembarangan, sebab nyanyian ini hanya dapat dilakukan ketika ada peristiwa kedukaan saja. Pada nyanyian Selumadmengartikan sebuah sindiran tentang kehidupan manusia.

Halaman:

BACA JUGA

Rabu, 23 Agustus 2017 10:38

Ceritakan Masa Sulit dari Berkebun Hingga Jualan Stik Es Lilin

Tak banyak yang mengenal sosok Onggy Hianata di Tarakan. Film layar lebar yang berjudul Terbang: Menembus…

Selasa, 22 Agustus 2017 10:58

Terbang: Menembus Langit

TARAKAN –  Kemarin, sebagian Jalan Markoni ditutup dan dipadati masyarakat. Bukan karena…

Selasa, 22 Agustus 2017 10:56

Lulus SD Sudah Jadi Calon Ibu

TARAKAN – Pernikahan dini di Bumi Paguntaka dalam delapan bulan terakhir ternyata kurang lebih…

Selasa, 22 Agustus 2017 10:54

Hamil Usia Dini Risiko Komplikasi

TARAKAN – Hamil di usia yang sangat muda menjadi masalah utama dalam dunia medis. Sebab, sang…

Selasa, 22 Agustus 2017 10:53

PAN Pilih Sofian dan Sabar

TARAKAN – Partai pemenang pemilu pada 2014 lalu di Tarakan, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN)…

Selasa, 22 Agustus 2017 10:51

DAK untuk Perbatasan Dialokasikan Rp 62,44 T

ANGGOTA DPR RI, Hetifah Sjaifudian meminta pemerintah pusat dan daerah pacu pembangunan daerah perbatasan.…

Selasa, 22 Agustus 2017 10:41

Calhaj asal Tarakan Batuk Pilek

TARAKAN - 149 jamaah calon haji (JCH) asal Kota Tarakan kemarin (21/8) telah usai melaksanakan ibadah…

Selasa, 22 Agustus 2017 10:38

Korek Informasi Melalui HP SL

TARAKAN – Penyidik Reskrim Polres Tarakan terus kerja keras membongkar motif di balik kasus bayi…

Selasa, 22 Agustus 2017 10:34

Golkar Belum Tetapkan Figur di Pilkada Tarakan

Tarakan – Meski pertama kali melaksanakan penjaringan bakal calon di Kota Tarakan, Partai Golongan…

Selasa, 22 Agustus 2017 10:33

Yunus Tampik Isu Maju, Siap Jika Dijadikan Wakil

TARAKAN – Seringnya Dr. H. Muhammad Yunus Abbas S.IP, M.Si mengupdate kegiatannya di media sosial…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .